“Another Ice Cream..”

Life is feel like’s every Sunday! Licked ice cream with sundae!

Come Fly With Me to 7th Skies December 16, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 6:42 am
Tags:

Jika ciuman pertama membuat kita serasa terbang ke langit ke tujuh, lalu kenapa industri airline semakin menjamur? Jika dengan ciuman saja sudah bisa mengantarkan kita kesana, lalu buat apa ada pesawat terbang atau bahkan pesawat ruang angkasa? Harga tiket bahkan jauh lebih mahal dari harga ciuman, kan? Saat berspekulasi dengan teori pun dilakukan demi sebuah pembuktian.

***

Teori ngawur seorang sahabat ketika kami masih berseragam putih biru membuat saya selalu tersenyum setiap kali melakukan ciuman pertama kali dengan pacar-pacar saya. Yah, harusnya teori itu hanya berlaku untuk Ciuman Pertama saja, tapi saya selalu menganaloginya dengan setiap kali ciuman pertama kali dengan pacar baru.

Ntah mengapa itu yang ada di pikiran saya. Bisa jadi saya masih terus merasa excited setiap kali melakukan ciuman dengan seseorang di saat pertama kali. Saya ingin sekali bisa merasakan sensasi yang berbeda-beda dan membuktikan teori sinting ala sahabat saya.

Ingatan saya kembali ke masa-masa ketika saya berada di bangku kelas 2 SMP. Saya ingat, malam dimana saya dan empat orang sahabat perempuan menginap di rumah Nana. Nana, salah satu sahabat saya yang terkenal sinting dan mempunyai daya tarik luar biasa untuk menaklukkan para pria dijamannya.

Disaat saya dan keempat sahabat lainnya sedang menikmati berlompat-lompat sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara fals, Nana datang menghampiri cermin yang ada di kamarnya dan mematut dirinya disana tanpa mempedulikan keributan kami.

Saya menghentikan gerakan tarian konyol saya dan segera melihat Nana yang sedang mengelus-elus bibirnya sambil terus tersenyum lewat cermin. 

“Na, kenapa?”

“…”

“Na, ada apa? Diapain ama Bang Ryan?”

Mmm, bener apa tulisan di majalah. Rasanya seperti terbang ke langit ke tujuh dan menari-nari disana.”

Sontak keempat sahabat lainnya berjalan mendekati cermin dan melihat ke arah Nana dengan tatapan bodoh dan bingung. Jelas saja kami bingung, terbayangkan bagaimana lugunya kami saat itu?

“Ada apa sih, Na?” tanya Novi antusias.

“…”

“Na, yakin ngga ada apa-apa? Cerita dong,” bujuk Liza.

“…”

Nana hanya menjawab pertanyaan dengan terus tersenyum dan tidak melepaskan ujung jari telunjuknya dari bibirnya.

Saya segera menyadari bahwa Nana baik-baik saja. Dia hanya sedang mabuk cinta. Lihat ekspresinya, tidak memperlihatkan kalau dia menderita atau telah disakiti oleh Ryan.

Mmm, kok bisa? Ngelakuin dimana? Di teras? Dicium apanya?” tanya saya sambil tertawa melihat gaya genit Nana mengoles lipbalm di bibirnya.

Nana berlari keluar kamar sambil terus tersenyum dan tiba-tiba bersenadung riang, ntah dalam irama apa. 

Saya dan keempat sahabat saya akhirnya hanya bisa tertawa melihat tingkah Nana dan mulai membahas ke-abnormal-annya.

Nana mengatakan bahwa ciuman pertama akan membuat kita serasa terbang ke langit ke tujuh telah membuat saya dan sahabat-sahabat saya penasaran.

“Apa ciuman pertama itu sedemikian dahsyatnya?”

Satu-per-satu sahabat saya mulai membuktikannya. Dan saya?

Saya menunggu hingga 6 tahun lamanya untuk bisa membuktikan teori sinting tersebut. Kenapa saya bisa selama itu memutuskan untuk berciuman dengan seseorang?

“Saya hanya akan melakukan ciuman pertama kali dengan orang yang benar-benar saya suka.” Dan itu saya lakukan dengan mantan sahabat. Kenapa mantan sahabat? Karena dia telah menukar statusnya dari sahabat kecil saya menjadi pacar.

Ciuman pertama di usia 20 tahun tidak membuktikan apa-apa atas teori Nana. Saya tidak merasa kaki saya mengambang, apalagi bisa terbang. Yang saya ingat, jantung saya berhenti berdetak dan telapak tangan saya menjadi dingin, tapi suhu tubuh saya menghangat.

Saya pikir, bisa jadi hal ini dikarenakan saya terlalu fokus untuk mencari rasanya tapi tidak menikmati. Belum lagi gangguan beghel yang saya pakai, jadi jangan harap akan bisa berciuman ala Drew Barrymore di Never Been Kissed, karena setelah adegan itu terjadi, saya meninggalkan banyak luka di bibir pacar saya. Level pacar sama beginner-nya dengan saya. Benar-benar pengalaman pertama yang kacau. Tapi kami menikmatinya dengan tertawa.

Bagaimana jika cerita ini saya ceritakan kepada Nana?

Bisa jadi dia adalah orang terakhir yang akan menghentikan tawanya. Level Nana sudah expert dengan medali berlian, mungkin dia sudah tidak mencari rasanya terbang ke langit ke tujuh, melainkan dia mungkin sudah merasakan bagaimana rasanya tinggal di surga meskipun sesaat dengan dayang-dayang membawa segelas margarita untuknya.

 

Saya hanya menyimpan cerita berusaha bisa terbang ini di salah satu kotak memori di hati saya. Saya masih menyimpan gregetnya walaupun tidak bisa terbang sejauh teori Nana.

Saya masih penasaran.

Saya terus mencari rasanya terbang ke langit ke tujuh. Apa langit ke tujuh sebegitu romantisnya untuk didatangi ketika ciuman pertama kali terjadi?

Saya mencarinya dalam setiap kali ciuman pertama saya dengan seseorang. Setiap bibir mengantarkan arus listrik yang berbeda-beda tapi sensasinya tidak semenggoda sensasi pertama.

Bisa jadi karena saya tidak pernah lagi merasakan perasaan seperti ketika pesawat akan take-off dari bandara setelah ciuman pertama saya dulu. Ada debaran jantung yang seakan berhenti beberapa saat, saat dua bibir bersentuhan.

Mungkin ini yang disebut dengan terbang ke langit ke tujuh ya? Ada penanggalan logika disana ketika adegan itu terjadi. Alam bawah sadar lah yang bekerja dan membuat kita merasa ada di sebuah tempat terindah dimuka bumi ini.

Dan, saya selalu tertawa geli setiap kali mengingat bagaimana saya dan mantan sahabat bisa melakukannya di ciuman pertama kami.

Lalu, saya mengacungkan jempol untuk teori ngawur Nana.

Kini saya akan menyuruhnya mengacungkan jempolnya buat saya karena saya akan melengkapi teorinya.

“Sekarang, perasaan saya bukan lagi bisa terbang ke langit ke tujuh dalam one day flight saja, tapi setiap kali saya berciuman dengan pacar terakhir saya, rasanya kami sudah pindah ke langit ke tujuh.”

Tahu kenapa?

Karena ketika saya mencium seseorang dengan perasaan sayang dan nyaman, maka hidup akan selalu menjadi lebih baik setiap kalinya. Kini, saya sudah tidak lagi mencari pembuktian, tapi saya sudah menemukan kenyataan.

 

Kerlip December 12, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 6:28 am
Tags:

Bintang,

Jangan pergi dulu!

Temani langit menikmati pekatnya malam.

Baluri dia dengan kerlip cintamu.

 

Bintang,

Jangan beranjak pergi.

Temani malam melewati waktu,

Menunggu pagi memaksanya pulang.

Biarkan dia menyelimutimu dengan kehangatan.

 

Bintang,

Tetaplah disini dulu.

Toh pagi belum juga datang dan menggiringmu keluar dari peraduanmu.

Temani malam dulu, ya?

 

Ayo berjanji!

Bahwa Kamu akan setia menemani setiap malam dengan kerlipmu.

 

Bintang,

Kamu akan terus menjadi kejora dilangit malamKu, kan?

Aku butuh kerlip genitmu menyiasati pekat langitKu.

 

Bintang,

Terus temani Aku ya?

Jangan lelah menjaga kerlipmu untuk terus Ku nikmati,

Kilau binarmu berbalut dekapan malam.


 

Satu Sumpah Setia Para Pemuda December 12, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 6:07 am
Tags:


                  “SUMPAH PEMUDA.

                  Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.” 

Satu sumpah setia yang diucapkan oleh putra-putri anak bangsa sebagai wujud semangat persatuan dan rasa nasionalisme terhadap tanah air yang dicinta, Indonesia. Ada kedalaman tekad dalam setiap untai sumpah yang disiratkan. Ada luap penuh harapan dan tanggung jawab sebagai bukti akan kecintaan atas negara tempat kaki dipijakkan dan darah mengalir dalam setiap relung sanubari. Bukan sembarang sumpah dan ini sumpah setia para pemuda yang harus terus dipertanggung-jawabkan kemarin, hari ini, dan besok kepada negara.

Buliran semangat ini bukan tanpa dasar. Persamaan sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan yang mengantarkan Sumpah Pemuda sebagai pemersatu jiwa persatuan para pemuda. Ada kekuatan dalam setiap rasa kebanggaan menjadi anak-anak bangsa dan diwujudkan menjadi sebuah pergerakan nasional untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik dan bebas merdeka.

Kebangkitan nasional yang digerakkan oleh pemuda pun dimulai dan inilah yang menjadi titik tolak menuju kemerdekaan Indonesia yang berdaulat, menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa di mata dunia. Tidak ada kata takut, yang ada hanyalah tekad bahwa tanah air harus dimerdekakan. Setiap jengkal tanah Indonesia berisi darah pemuda yang terus tumbuh subur dan tidak akan pernah layu menjadi repihan.

Dan, disinilah perjuangan para pemuda akan dituturkan. Bukan untuk mengharapkan pujian dan ucapan terima kasih karena tidak ada kata pamrih atas nama bangsa. Cerita ini dipaparkan untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan dan kecintaan kepada tanah air agar tidak pernah surut. 

Aku, Soeripto berada disana dan menjadi bagian dari kisah perjuangan yang dilakukan oleh para pemuda. Tahun demi tahun aku lewati bersama raga penuh gelora milik pemuda Indonesia, meneteskan keringat perjuangan dan kebersamaan, bernyawa persatuan demi mencapai satu niat mengantarkan bumi Indonesia ke pintu kemerdekaan.

1908

Masih terekam diingatanku bagaimana masa-masa sulit itu aku lewati. Umurku tepat berusia sekitar 10 tahun, saat itu. Saat dimana kebodohan dan kemiskinan membelenggu. Ah, rasanya Aku tidak bisa menggambarkan dengan sempurna, betapa menyakitkan dan menderitanya berada dalam belenggu penjajahan Belanda.

Kesempatan untuk merubah nasib pun datang. Saat Belanda menjalankan Politik Etis di bumi Hindia Belanda (nama untuk Indonesia saat itu). Ntah bagaimana awalnya. Pada saat itu, seingatku, Aku merasa sangat bahagia karena diberikan kesempatan untuk bisa membaca dan menulis. Aku sudah tidak sabar rasanya ingin membaca semua tulisan yang Aku temukan saat itu sebagai upaya melatih kemampuanku. Walaupun bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar, bagiku tidaklah masalah. Aku masih terjebak dengan perasaan bahagia tidak terperi. Akhirnya, Aku melek huruf.

Mana pernah Aku tahu dengan detail kalau Politik Etis yang dijalankan oleh pemerintahan Belanda untuk membayar hutang kehormatan terhadap Jawa. Aku terlalu kecil untuk mengerti. Tapi dengan bertambahnya usia dan juga pengetahuan, Aku mengerti kenapa pemerintah Belanda menerapkan Politik Etis di tanah jajahannya, Hindia Belanda. Mungkin Belanda menyadari bahwa terlalu banyak hutang budi kepada Hindia Belanda. Bukan saja dijajah, tapi hasil alam Hindia Belanda dikeruk sampai habis demi kepentingan Belanda. Rakyat Hindia Belanda, tidak bisa menolak karena Belanda tidak pernah meminta melainkan merampok sepuasnya tanpa tedeng aling-aling. Alangkah nikmatnya menjadi penguasa dan penjajah di atas tanah bergelimang harta berisi kesuburan dan limpahan karun yang bersemayam di dalam sepetak tanah bernama Indonesia.

Namun, pelan-pelan rakyat Hindia Belanda mulai menyerap segala ilmu yang diberikan lewat Politik Etis. Begitu pun halnya denganku. Aku menyerap semua ilmu dan pelajaran yang Aku terima dengan sebaik-baiknya. Aku semakin menyadari bahwa pendidikan adalah satu hal besar yang aku butuhkan untuk  keluar dari semua belenggu penjajahan. Semangatku untuk belajar terus tumbuh, melihat aksi para pemuda (yang umurnya berada jauh diatasku) melakukan pergerakan.

Aku mempelajari satu hal penting bahwa pendidikan menjadi kunci menuju kehidupan yang lebih baik. Berawal dari kesadaran itulah, pemuda bangkit. Pendidikan merupakan akar terbentuknya kecerdasaan bangsa, terlebih lagi pendidikan kebangsaan. Kesadaran ini yang akhirnya menjadi cambukan terjadinya pergerakan agar Indonesia tidak lagi menjadi negara terjajah. Tidak lagi diinjak-injak harga dirinya apalagi martabat kebangsaannya.

Rasa cintaku pada tanah air pun tumbuh. Seiring berjalannya waktu. Aku ingin suatu hari nanti, kelak ketika Aku dewasa, Aku bisa menjadi salah satu dari tokoh yang menggiring Indonesia ke arah kemerdekaan.

Proses pendidikan berjalan. Perbaikan pendidikan yang paling berarti adalah sistem sekolah dasar kelas satu dan dua yang dibuka secara kecil-kecilan untuk orang Indonesia. Terdapat pemisahan, dimana sekolah kelas satu ditujukan untuk golongan atas, sedangkan kelas dua khusus untuk rakyat jelata. Lama pendidikan untuk kelas satu ditempuh dalam waktu lima tahun dan mempelajari bahasa Belanda, di tahun keenam, bahasa belanda dijadikan bahasa pengantar dalam proses belajar-mengajar. Kelas dua menjadi standard schoolen atau sekolah standar untuk mereka yang menggeluti dunia perdagangan dan kelas ini dipadati oleh orang China.

Saat itu, ada beberapa hal  yang terus menjadi tanda tanya di benakku. Memang, Aku yang merupakan salah seorang anak priyayi mendapatkan kesempatan lebih besar untuk belajar. Duduk di bangku kelas satu dan mengenyam pendidikan yang lebih baik dibandingkan pelajar di kelas dua. Tapi perasaan ngiris menerpa, kenapa saudara sebangsaku dalam memperoleh pendidikan hanya dibatasi oleh kedudukan sosial? Pentingkah perbedaan sosial dibawa sampai ke jenjang pendidikan? 

Aku melihat dengan mataku. Semangat untuk mengeyam pendidikan dan merasa bahwa pendidikan penting pun menjangkiti setiap pribumi. Ada keinginan besar mencerdaskan diri demi kemajuan bangsa dan tidak ingin lagi dibodoh-bodohi penjajah. Pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bisa dibandingkan dengan nilai apapun. Segera disadari pendidikan akan mendatangkan kemajuan bagi masa depan bangsa, sehingga bebas dari belenggu kebodohan dan keterpurukan akibat terjajah.

Satu-per-satu, orang-orang pribumi berangkat ke sekolah dengan kesadaran sendiri. Tidak lagi memandang usia, semua berebut bermimpi menjadi yang terbaik dan bisa menyelamatkan negara dari segala bentuk keterbelakangan. Pengelompokan kelas terjadi, dan diukur berdasarkan usia, dimana rentang usia yang tidak begitu jauh disatukan dalam satu kelas untuk mendapatkan pelajaran bahasa Belanda. Pendidikan dasar yang bertujuan agar menjadi fasih dan faham dalam setiap mata pelajaran yang diberikan dengan pengantar bahasa Belanda. 

Keingintahuanku semakin menyala bagai kembang api. Segala macam ilmu dan pengetahuan Aku kumpulkan dengan satu tujuan memuaskan hasrat belajarku untuk mengenal bangsa. Aku sangat bersyukur, apa yang Aku inginkan tercapai tanpa harus menunggu lama. Jiwa-jiwa ingin tahuku yang bergentayangan pun terjawab. Aku melihat satu-per-satu media massa buatan anak bangsa (terutama pemuda) beredar. Aku menemukan jurnal Bintang Hindia yang digagasi oleh Abdul Rivai.

Aku sangat senang membaca setiap untai kata yang dituliskan Rivai. Rivai mengurai gagasan dan ide-idenya yang provokatif di jurnal Bintang Hindia. Aku bisa merasakan bahwa Rivai menaruh harapan besar untuk bisa mengakhiri penderitaan Hindia Belanda.

Sangat disayangkan, dengan berjalannya waktu dan kendala yang menerpa, jurnal “Bintang Hindia” tidak bertahan lama dan berhenti beredar tahun 1906. Tapi, ibarat kata pepatah, mati satu tumbuh seribu, inilah yang terjadi selanjutnya. Kematian “Bintang Hindia” segera digantikan eksistensinya oleh majalah “Ratnadhoemilah”. Adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo sebagai dalang dibalik pemunculan majalah “Ratnadhoemilah”. Dan tak lama kemudian, koran Medan Prijaji terbit atas prakarsa Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, seorang tokoh pers yang dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Hindia Belanda.

Kehadiran media massa ini membuat rakyat Hindia Belanda lebih berani mengemukakan semangat dan tekadnya. Ruang-ruang diskusi pun terbuka. Aku bisa melihat, bagaimana para pemuda berdiskusi dimana saja tanpa perasaan takut. Mereka membahas isi jurnal atau koran yang telah mereka baca dan mencari peluang untuk melakukan gebrakan.

Gebrakan pun dimulai oleh Soetomo. Soetomo berpikir sekarang lah saatnya mengambil prakarsa menolong rakyat sendiri dengan mendirikan perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura dengan harapan akan bisa memperbaiki nasib bangsa dimana perkumpulan ini bersifat terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, dan pendidikannya. Aku belum bisa bergabung, umurku belum cukup untuk mengikuti rapat-rapat rahasia yang mereka lakukan. Aku hanya berani mengintip dan mencuri dengar apa yang mereka perbincangkan. Semua itu demi untuk memuaskan rasa penasaranku.

Sampai pada satu hari, Aku mendengar berita bahwa telah berdiri organisasi Boedi Oetomo pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi. Kehadiran organisasi Boedi Oetomo disambut dengan gempita dan segera menyebar sebagai berita besar dengan gaungan akbar Boedi Oetomo lahir secara demokratis sebagai organisasi pertama di Hindia Belanda yang di pelopori oleh ide hebat kaum muda dan dipimpin oleh kaum tua. Rakyat semakin yakin, kehadiran Boedi Oetomo akan membawa angin segar bagi pembaharuan Hindia Belanda untuk melawan dominasi Belanda di Hindia Belanda. Satu langkah telah ditempuh oleh anak bangsa.

Mengikuti jejak suksesnya Boedi Oetomo, maka satu-per-satu organisasi pemuda pun muncul di tanah Hindia Belanda. Semua organisasi bergerak dengan satu tujuan kemerdekaan bagi tanah Hindia Belanda. Darah penuh gairah para pemuda bergelora. Semangat mempersatukan kekuatan lewat persatuan dan kebersamaan memuncak. Pemuda bergandengan-tangan dan saling bahu-membahu membangun martabat bangsa. Aku tidak pernah lupa moment-moment berharga seperti ini. Tokoh-tokoh besar yang berasal dari pemuda  pun mulai mencuat kepermukaan. Aku tahu bahwa Belanda mulai mengkhawatirkan menjamurnya organisasi pemuda, ada ketakutan kekuatan yang dihimpun pemuda semakin kuat dan akan menjatuhkan Belanda dengan skak-match. Wajar, jika ketakutan itu muncul. Ada bola api yang semakin membesar atas kemerdekaan Hindia Belanda yang dirasakan oleh Belanda.

Tahun 1913. Batavia semakin bergejolak. Semangat perlawanan kaum muda semakin tumbuh. Partai yang anti-kolonial dan bertujuan kemerdekaan Indonesia ini dibubarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda setahun kemudian, 1913. Ki Hajar dan Tjipto Mangoenkoesoemo dibuang ke negeri Belanda. Douwes Dekker ditangkap kemudian dibuang ke Suriname.

Tak sabar rasanya menunggu menjadi pemuda. Agar Aku bisa mencemplungkan diri dalam pergerakan. Dan kesempatan itu datang padaku. Aku berusia 24 tahun saat Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra”, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Aku bangga menjadi bagian dari pergerakan itu sekarang. Bangga menyandang gelar sebagai wartawan di majalah Indonesia Merdeka. Sangat bangga. Aku bangga bisa menuliskan semua yang Aku tahu dalam kolom-kolom majalah yang menjadi wewenangku. Aku ingin sekali untuk mengajak rakyat negeri ini bergerak dan mengepalkan tangan ke udara dengan berteriak “Merdeka” sekeras-kerasnya.

Satu tulisan Bung Hatta yang terus aku simpan dari potongan artikel di majalah Indonesia Merdeka, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. Kata-kata bijak yang keluar dari tulisan tangan seorang pemikir hebat dengan darah Indonesia mengalir disekujur tubuhnya. Aku semakin terlarut dalam kebanggaanku menjadi anak Indonesia. Nama negara yang indah, dan Aku tak berhenti menuliskan nama Indonesia dalam setiap kesempatan.

1928

Satu rekaman memori di dalam otak ini masih milikku. Aku mengenal rasanya jatuh cinta. Seorang gadis sederhana mengusik hari-hariku dengan pemikiran dan kontroversinya. Lastri telah merebut sebagian hati yang tadinya hanya kupenuhi dengan nama Indonesia. Aku terpukau pada sosoknya sebagai wanita yang ingin menentang tekanan dan patokan yang diberikan bagi kaum perempuan. Lastri bukanlah wanita terpelajar yang duduk di bangku sekolah milik Belanda karena dia terlahir dari keluarga rakyat jelata. Pengetahuannya tumbuh karena seringnya Lastri menghadiri setiap pertemuan pemuda dan mempelajari banyak hal disana dengan bertemu para tokoh pemuda hebat. Tapi, kecemerlangan berpikir Lastri yang membuat argumennya bisa diterima dalam setiap perdebatan. Lastri menanyakan dimanakah posisi kaum wanita diletakkan oleh bangsa sebagai bagian dari perjuangan. Lastri menuntut persamaan hak antara wanita dan laki-laki. Dengan pemikiran Lastri lah, para tokoh menyadari kalau selama ini kaum wanita dianggap sepele dan dinomor duakan. Lastri tahu bahwa kaum wanita sama kuatnya dengan laki-laki dan harusnya menjadi pertimbangan untuk ikut serta menggiring Indonesia ke arah pintu kemerdekaan.

Hari itu pun tiba. Satu hari besar. 28 Oktober 1928, setelah perjalanan panjang membentuk upaya perlawanan terhadap kolonial Belanda dengan tujuan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan dan sebagai bentuk aspirasi pemuda bagi negara lewat pendidikan dan kelompok organisasi, maka tekad untuk menjelaskan jiwa nasionalisme pun tiba pada waktunya. Tidak lagi bisa menahan diri untuk menyerukan rasa kecintaan dan kebanggaan terlahir sebagai putra-putri bangsa. Tidak ada lagi batas antara pemuda dan pemudi, semua tokoh muda berkumpul menyuarakan tekad dan membuktikan diri pada bangsa lewat satu janji setia para pemuda.

Lahirlah Sumpah Pemuda. Sebuah perjalanan penuh perjuangan dari segala gerakan yang pemuda lakukan untuk menggiring Indonesia ke pintu kemerdekaan. Hanya itu yang menjadi tujuan utama. Tujuan bisa bebas merdeka sebagai satu negara yang utuh. Tidak lagi dikendalikan oleh bangsa lain. Dan demi terwujudnya cita-cita besar, hanya kesatuan dan persatuan lah yang menjadi kunci utamanya. Satu sumpah diucapkan, sumpah ibarat janji yang diwakilkan pemuda saat itu untuk dititipkan dan diteruskan kepada pemuda Indonesia dari generasi ke generasi untuk terus dipertanggungjawabkan atas cinta dan bakti pada tanah air, untuk melakukan perubahan, dan diyakini bahwa Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah bangsa untuk melanjutkan langkah dengan semangat menuju gerbang kemerdekaan.

Aku berdiri di antara pemuda yang menghadiri Kongres Pemuda. Tidak hanya untuk mencari bahan tulisan pada artikelku, melainkan Aku ingin bisa merasakan adrenalin yang berpacu saat Aku ikut mengucapkan sumpah setia kepada bangsa ini. Jiwaku berdebar, bulu kudukku merinding, aku terpukau dengan keindahan sumpah yang aku lontarkan dengan bibir bergetar namun penuh semangat. Aku bisa merasakan sakralitas sebuah sumpah berupa janji. Janji untuk terus menjadi pemuda Indonesia yang mengabdi pada negara.

Jantungku tak henti berdegup. Masih ada debaran berikutnya. Sebelum Kongres Pemuda ditutup, setelah pengucapan Sumpah Pemuda, diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola tanpa syair. Lagu Indonesia mampu membius perasaan peserta kongres. Walau tanpa lirik, tapi terdengar sakral dan indah. Tidak ada yang bisa menepis bulu kuduk yang berdiri saat setiap kali biola digesek. Ada rasa kecintaan yang semakin tumbuh dan rasa memiliki atas bangsa semakin besar. Tak perlu mendengar lirik, tapi setiap peserta merasa yakin, bahwa WR Supratman menuliskan lirik dengan tetesan cintanya pada tanah air. Tidak lagi ada kesangsian akan hal itu, biusan melodi indah telah berhasil membuktikannya. Rasa haru tidak dapat dibendung lagi, tetes-tetes cinta pada bangsa semakin besar dan merasa bangga telah menjadi bagian dari prosesi besar pengikraran sumpah setia, Sumpah Pemuda.

Saat itu pulalah, akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928. Alangkah beruntungnya AKu bisa berada diantara pemuda-pemuda hebat milik bangsa. Tekadku bertambah bulat, Aku harus bisa mengantarkan pintu kemerdekaan Indonesia bersama dengan para pemuda. Tak peduli apa yang harus dikorbankan, karena pengorbananku tidak akan seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan yang telah dilewati negeri ini. 

Menuju 1945.

Pupus sudah kesempatan, tapi tidak dengan pengharapan. 8 Maret 1942, tanah air jatuh ke tangan Jepang dan itu berarti lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk seterusnya. Tapi hal ini bukan berarti Indonesia semakin dekat dengan harum-semerbaknya kemerdekaan, penderitaan demi penderitaan lah yang terjadi setelahnya. Tidak ada kata ampun selama masa-masa penjajahan Jepang. Rakyat Indonesia semakin terpuruk penderitaan. Tragis dan menyakitkan untuk dikenang tapi kebenaran harus dipaparkan, demi kepentingan sejarah dan membuat para generasi lebih menghargai setiap perjuangan yang telah dilakukan demi bangsa ini.

Sakitnya penderitaan anak bangsa saat dikuasai oleh Jepang lebih sakit rasanya dibandingkan pecutan cambuk atau pun sayatan belati. Tidak ada yang bisa mengerti perihnya, jika tidak merasakan sendiri. Hidup dalam penjajahan tidak lah pernah menikmati kenikmatan walau hanya sedetik pun. Kesewenang-wenangan Jepang benar-benar diluar batas, bagai binatang yang tidak punay perasaan hanya punya nafsu. Kekejaman-kekejaman silih berganti terjadi, hingga saatnya semua yang anarkhi pasti ada akhirnya. 

Deritaku semakin bertambah. Aku menyaksikan perihnya dan rasanya tidak kuat lagi untuk berteriak memaki. Lastri yang telah menjadi istriku, ditarik paksa oleh tentara Jepang untuk menjadi pemuas hasrat tentara Jepang saat Aku berada di luar rumah untuk satu pertemuan. Ibu mertuaku tak peri menahan tangis dan perihnya, bahkan menceritakan deritanya kepadaku dengan cucuran airmata. Rasa dendamku pada Jepang semakin memuncak. Ingin kubantai habis semua turunan dan menguburnya di Lautan Pasifik agar tidak ada lagi jasad yang tersisa di bumi Indonesia. Arrgg, rasanya mengerang marah pun sudah sampai pada puncaknya.

Berita bahagia mulai sedikit membawa angin segar penuh harapan kebebasan. Kejadian bom atom di Hiroshima dan Nagasaki membuatku dan para rakyat bisa mencium adanya kabar gembira atas kekalahan Jepang. Tidak ingin menunggu lama, Jepang mencium tanah kekalahan dan menyatakan diri telah terpuruk kalah sebagai pecundang perang.

17 Agustus 1945

Aku tak sabar rasanya mendengar proklamasi kemerdekaan dibacakan. Sudah lama sekali, Aku dan rakyat Indonesia menanti saat-saat seperti ini terjadi. Kami sudah terlalu letih untuk terus dijajah. Capek ditindas, disemena-menakan, dirampas segala hak atas kehidupan. Aku ingin segera mencium aroma kebebasan. Aroma kemerdekaan pasti berbeda harumnya ketika berhembus di udara.

Aku berdiri di barisan depan. Ingin mendengar pernyataan proklamasi dengan seksama dan mengikuti acara dengan lebih sakral. Aku berkali-kali mengecek jam tanganku dan menunggu dengan penuh harap. Jiwa pejuangku muncul. Debarannya berbeda kali ini, Aku bisa merasakan debaran bahagia yang meletup-letup saat tepat jam 10.00 acara dimulai dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan dr. Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Dan, proklamasi pun berkumandang ke penjuru tanah air.

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 – 8 – ‘45

Wakil2 bangsa Indonesia.

Soekarno – Hattas

Teriakan MERDEKA! Berkumandang  dan terus-menerus tersirat di wajah-wajah penuh bahagia setiap rakyat Indonesia.

Kita telah meraih kemerdekaan, tapi perjuangan tidak lah terhenti sampai deklarasi Proklamasi. Masih banyak tugas menanti sebagai pemuda, masih banyak jalan yang harus kita lalui untuk membuat kemerdekaan tidak tersia-siakan. Indonesia masih harus melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Namun, semua itu tidak akan mungkin tercapai jika sebagai pemuda, kita hanya berpangku tangan mengharapkan belas kasihan.

Ayo bergerak! Bangkit! Bangkit layaknya pejuang! Ini waktunya kita membalas budi para pahlawan, pejuang kemerdekaan. Inilah saatnya menggiring Indonesia menapaki tapak langkahnya menuju masa depan gemilang.

 

Maka, atas nama pemuda mari bangkit sekarang dan tanamkan kedalam hati bahwa Sumpah Pemuda adalah satu bukti bahwa kita pernah berjanji kepada bangsa sebagai “Kami Putra dan Putri Indonesia”. Semangat itu harus terus membara karena kita punya tanggung jawab atas negeri ini.

Ingat!

Indonesia milik kita! Darah kita meresap ke dalam tanah yang kita pijak dan kita tumbuh dari setiap jengkal pemberian tanah-tanah Indonesia kepada kita. Biarkan gairah kecintaan sebagai anak bangsa meresap kedalam setiap sudut dari diri kita, sebagai pemuda harapan bangsa.

 

***

 

 

Nothing’s Perfect? (Termasuk) CINTA? December 12, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 5:31 am
Tags:

C I N T A. Lima huruf yang merangkai sebuah kata fenomenal dengan arti mendekati kesempurnaan dari sebuah rasa. Saya belajar memahami artinya walaupun tidak sesempurna Sang Maha Cinta. Nothing’s Perfect, mungkin berlaku juga untuk Cinta. Mungkin.

***

Sambil menemani Mama menonton televisi, iseng saya bertanya pada Mama, “Bagaimana cara Papa Mama bertemu terus menikah?” 

Mama menghentikan kegiatan menonton infotainment dan berpaling ke arah saya, dengan ekspresi datar Mama hanya menjawab, “Mama dijodohkan sama Jid.”

*(Jid a.k.a Kakek)

“Dijodohkan? Kok Mama mau?”

“Ya mau gimana lagi?”

“Pacar Mama?”

“Mama tinggal kawin sama Papa.”

Kasian banget.”

“Kebahagiaan Jid lebih berarti.”

“Mengorbankan cinta?”

“Cinta siapa? Semua yang pergi akan ada gantinya kan?”

“Maksudnya? Cinta Papa?”

“Cinta Papa berisi penderitaan.”

“Kenapa Mama bisa bertahan?”

“Karena kalian butuh lebih banyak dari cinta.”

“Apa Mama cinta sama Papa?”

“…”

Diamnya Mama membuat saya berpikir, apakah cinta itu hanyalah absurd? Saya mengartikan sendiri diam Mama dengan satu kalimat kalau Mama tidak mencintai Papa.

Lalu, kalau benar Mama bersedia nikah dengan Papa tanpa cinta, lalu bagaimana mungkin saya dan adik-adik bisa hadir ke dunia? Apakah cinta ibarat kebutuhan sekunder dalam sebuah pernikahan?

“Cinta penting tapi bukan prioritas untuk membangun sebuah rumah tangga,” alasan sentimentil Mama yang tidak sepenuhnya saya pahami.

Bagaimana mungkin seseorang dapat tinggal bersama tanpa cinta? Berpuluh-puluh tahun? Bisakah cinta tidak pernah hadir setelah sekian lama Mama dan Papa hidup bersama?

Secara logika, saya pikir itu tidak mungkin terjadi.

Dalam sebuah hubungan pacaran saja, saya tidak akan mau meneruskan hubungan dengan pacar jika saya tidak memiliki rasa nyaman bersama mereka. Tapi masalah pernikahan adalah masalah yang berbeda, kan?

Saya pernah mendengar sebuah pepatah jawa, witing trisno jalaran soko kulino, yang saya artikan kalau cinta akan tumbuh sejalan waktu ketika kita telah menghabiskan banyak waktu dengan seseorang bersama-sama. Ala bisa karena biasa.

Tapi apakah segampang itu? Saya butuh dengar penjelasan lebih detail lagi untuk memaparkan hakekat dari pernyataan itu.

Lalu, saya pun menggali cerita dari Mama dan menemukan alasan-alasan kenapa Mama menerima perjodohan lalu menikah dengan Papa dan hidup bersama Papa puluhan tahun lamanya walaupun berisi penderitaan.

Jangan pernah membayangkan akan mendengar cerita seromantis Romeo and Juliet atau drama melankolis ala Shakespeare disini karena saya mendengarkan sebuah pernyataan sederhana, sangat sederhana mungkin bagi Mama tapi menyisakan banyak tanda tanya di kepala saya.

Saya bisa saja menganggap alasan sederhana Mama sebagai kebodohan karena tidak mau menyuarakan keinginannya. Saya sangat tahu Mama dengan wataknya yang keras dan selalu menggunakan bagian dirinya yang rasional, dan menentang kodrat perempuan yang lebih banyak menggunakan perasaannya dibandingkan otaknya. Tapi kali ini saya hanya terpekur mendengarkan pernyataan Mama bahwa yang dibutuhkan dalam pernikahannya dengan Papa adalah pengorbanan.

 

Pengorbanankah yang telah melunakkan Mama yang keras?

Segampang itu kah?

“Pengorbanan, Ma?”

“Ya, mengorbankan kebahagiaan Mama demi kebahagiaan orang tua.”

“Tapi jodoh kan ngga bisa dipaksa oleh orang tua, Ma?”

“Memang, tapi bagian dari tugas anak adalah membaktikan dirinya pada orang tua. Masalah jodoh bukan ditangan Jid atau Nenek, tapi bisa jadi mereka menjadi perantara dari Tuhan untuk menemukan jodoh Mama.”

“Walaupun Mama tersiksa setelahnya?”

“Walau apapun itu.”

“Mama ngga menyerah? Kenapa Mama ngga ninggalin Papa?”

“Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Anak-anak, Papa, Jid dan Nenek.”

“Tapi bukan dengan cara bertahan untuk menderita, kan?”

“Pernikahan isinya pembelajaran. Tidak selalu menyenangkan. Pernikahan tidak se-simple pacaran, bosan atau bertengkar tinggal putus. Tapi pernikahan tidak bisa seperti itu.”

“Kenapa Mama yang harus berkorban demi semua pertimbangan itu?”

“Karena perempuan jauh lebih tegar dibandingkan lelaki.”

“Tapi, Ma?”

“Tunggu sampai Ly berumah-tangga, maka akan tahu bagaimana rasanya hidup dalam sebuah pernikahan.”

“…”

Saya hanya terdiam.

Saya tahu, perasaan Mama menderita, tapi saya tidak pernah melihatnya menangis. Saya sering mendengar Mama dan Papa ribut, tapi saya tidak pernah melihat Mama meratapi nasibnya. Mama terlihat sabar walaupun tidak jarang saya mendengar Mama mengomel karena kesal terhadap Papa.

Kesabaran. Ini lah faktor lain yang dimiliki Mama selain pengorbanan dalam pernikahannya dengan Papa.

Tapi, apakah itu mungkin bentuk cinta yang tumbuh dihati Mama untuk Papa? Cinta diantara Mama dan Papa yang tidak bisa saya pahami karena saya tidak pernah tahu cara merasakan perasaan Mama yang sesungguhnya.

Namun, apapun yang tersimpan di hati Mama, membuat saya belajar bahwa penjabaran tentang cinta tidak pernah ada yang benar-benar mendekati kebenaran artinya secara harfiah.

Saya belajar percaya bahwa setiap orang mendeskripsikan perasaan cintanya dengan cara yang berbeda-beda kepada pasangannya. Sebesar apapun penderitaan yang mereka alami.

Bukankah orang yang paling sering membuat kita menangis adalah orang yang sebenarnya paling kita cintai?

Tanpa kita sadari, kita membencinya tapi sebenarnya kita pun tidak bisa hidup tanpanya. Maaf, diralat. Bisa hidup tanpanya tapi mungkin merasa kekosongan didalam hati ketika orang tersebut pergi.

Mama mungkin benar.

Keputusan yang diambilnya untuk menikah dengan Papa walaupun (awalnya) tanpa cinta menjawab semua keabu-abuan di benak saya. Cinta tidak harus selalu menjadi ambisi, tapi cinta bisa muncul mendadak seperti magic. Tidak ada yang pernah tahu seperti apa wujud hadirnya. 

Kadang saya berpikir, Mama bisa juga salah. Kenapa dia tidak menggunakan hak prerogatifnya ketika merasa tidak nyaman hidup bersama Papa dengan segala bentuk intimidasi keluarga besar Papa. Penderitaan Mama akibat kejahatan yang dilakukan orang tua dan saudara-saudara Papa sepanjang pernikahannya dengan Papa. Mama bisa saja minta cerai tapi Mama tidak melakukannya.

Mama tidak pernah memaksakan dirinya membenci Papa sebesar apapun masalah yang mereka hadapi. Mama tetap mendampingi Papa, bahkan dalam kondisi tersulit seperti sekarang menuju masa-masa tua mereka. Meskipun perdebatan sering terdengar, tapi mereka tetap bersama berusaha dengan sebaik-baiknya bertanggung-jawab mengantarkan anak-anaknya pada sebuah pintu keberhasilan.

Saya tidak sedang berada di dunia Cinderella yang melihat sebuah kehidupan percintaan akan happily ever after, tapi saya melihat bahwa didalam sebuah kehidupan rumah tangga tidak selalu berisi kebahagiaan tapi pasti akan berakhir bahagia.

Saya sangat bersyukur bisa belajar dari kehidupan Mama dan Papa dan berusaha suatu hari kelak ketika saya menikah, saya akan bisa sekuat Mama. Mama benar-benar wanita terhebat bagi saya.

 

Dan berharap agar adik-adik laki-laki saya bisa belajar dari kekurangan Papa agar mereka lebih menghargai pasangannya dan bersikap lebih transparan agar tidak ada yang tersakiti.

 

Tapi bagaimanapun hubungan cinta antara Mama dan Papa, saya yakin sekarang bahwa kami, anak-anaknya tumbuh besar dan menjadi dewasa seperti sekarang karena cinta yang selalu ditanam oleh Mama dan Papa kedalam jiwa-jiwa kami.

 

Saya beruntung dipercayakan Tuhan untuk lahir dan menikmati hidup di tangan Mama dan Papa, karena mereka lah yang terbaik dan berharga buat saya seburuk apapun pertengkaran hebat mereka yang pernah saya dengar.

 

Rumah semakin terasa lengkap dan bertabur bahagia ketika saya melihat Mama dan Papa duduk bersama menikmati sesuatu sambil tertawa dan saling memandang dengan senyuman. Mereka terlihat begitu bahagia.

 

Terima kasih, Tuhan.

Saya percaya cinta itu ada. Sempurna. Dengan semua kelebihan dan kekurangannya.

 

 

 

 

 

Redup December 11, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 11:04 am
Tags:

Terkurung dalam hampa,

Hati tak mampu lagi merasa, 

Mulut susah untuk berkata, 

Hidung kehilangan kenikmatan mengndus aroma, 

Detik berharga lewat berganti prahara,

Kemarin hanya mampu menjadi masa,

Bukan lagi prakarsa.

Ah, genderang hatiku..

Ingin aku kembali merasa,

Geliat bara dalam mencinta.

 

Inah, Jangan Lompat Dulu! December 11, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 10:52 am
Tags:

 

Depresi dan keberanian. Ntah keduanya pantas bergandengan atau malah bertolak belakang. Ketika perasaan depresi meradang di posisi puncak, sebuah keberanian akan muncul untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga. Mmm, sebentar, mungkin lebih tepatnya kenekatan dan bukan keberanian. Keberanian lebih pantas disandingkan dengan tindakan heroic. Kalkulasinya 90 persen, bisa jadi. Tapi, 99,9 persen sangat yakin kalau pikiran nekat lebih mendominasi segala keputusan saat depresi muncul. Tak perlu pikir panjang. Tak perlu memikirkan resiko. Tak perlu memikirkan rasanya. Hanya butuh nekat bertindak. Tapi, benarkah hanya kenekatan yang bisa mengakhiri perasaan depresi? Apakah hati dan otak manusia sama kosongnya dengan mannequin yang dipajang di display butik?

Saljinah, 15 tahun, adalah contoh mannequin bernyawa itu. Gadis manis ekspresif  dan mempunyai kegemaran menembang lagu-lagu Jawa serta mahir berjaipong dengan wajah nan lugu datang ke Jakarta dengan memendam obsesi bekerja diluar negeri dengan keahlian sebagai seorang babu. Mengikuti jejak sukses Sutiyem, adik ibunya yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi dan pulang ke kampung dengan pundi-pundi uang untuk membangun rumah beton dan memborong berpetak-petak sawah. Saljinah a.k.a Inah tergoda saat diajak Winarti, teman sekampung untuk ke Jakarta dengan tujuan mengasah kemampuan sebagai babu. Inah merasa mungkin Jakarta adalah batu loncatan menuju impian besarnya. Mimpi besar untuk menjadi babu di rumah presiden Amerika.

Kebanggaan akan diri sendiri muncul. Inah berhasil meraih partikel kecil mimpinya lewat rekomendasi Winarti pada majikannya, Lucy. Semangat menaklukkan impian demikian meledak-ledak tapi agak surut saat berkenalan dengan Paryono. Paryono pemuda tidak tampan tapi natural born playboy dengan segala macam daya tarik berhasil memikat Inah. Inah jatuh cinta. Kebanggaan Inah sedikit bertambah dengan memiliki pacar seorang mandor proyek. Perasaan jatuh cinta Inah menggiring Inah menanggalkan keseluruhan logika termasuk keperawanannya. Sempat berbalut isak tangis penyesalan, tapi ketika dibuai asmara dan merasa nikmat maka kenikmatanlah yang memenangkan seluruh rasa. Kata-kata manis Paryono membuat Inah percaya kalau semua akan baik-baik saja. Tapi benarkah semua akan baik-baik saja?

Inah mendapati dirinya hamil. Sejuta pikiran berkecamuk. Inah berlari tak tentu arah hanya tau harus mencari Paryono untuk mengabarkan berita yang masih belum mampu dijabarkan emosinya. Apakah ini berita bahagia atau bencana. Inah hanya tau harus segera menemukan Paryono. Tidak ada yang tau dimana keberadaan Paryono. Bahkan Paryono tidak pernah menduduki posisi mandor di proyek yang dinobatkan oleh Paryono sebagai proyeknya. Inah berbalur panik. Ada perasaan marah merasa tertipu tapi jauh lebih penting mengajak untuk bertanggung-jawab atas janin yang sedang tumbuh di rahim Inah.

Berlari. Mencari. Dan pasti ada akhir untuk menemukan. Inah berhenti mencari dan duduk melepaskan peluh tepat di depan kerumunan massa yang membubarkan diri. Inah menoleh. Perawakan yang sangat dikenalinya. Inah tidak bisa menahan emosinya. Inah berteriak dan menggerak-gerakkan tubuh Paryono. Paryono menjelang mati dan hanya sempat mengucapkan “Maaf!” Paryono babak belur dihajar massa saat  tertangkap mencopet di pasar. Inah berteriak histeris dan memaki keadaan. 

Kegalauan bertambah. Inah berniat mengadukan derita hatinya pada orang tua. Berharap akan menemukan perlindungan dan mencari jalan keluar. Inah terpuruk depresi dan menutup gagang telepon umum tanpa ekspresi. Ngadimin dan Sunarti menolak mengakui Inah sebagai anak lagi. Memelihara Inah dianggap aib keluarga. Aib beranakkan anak yang hamil di luar nikah dan punya calon menantu seorang pencopet yang mati dihajar massa. Inah berjalan diam. Otaknya berhenti berpikir. Hidup segan, untuk mati masih mencari caranya.

Perasaan depresi menggiring Inah untuk melakukan sesuatu. Mati mungkin akan mengakhiri deritanya. Ya, karena hidupnya akan berakhir pula. Inah mulai mencari caranya untuk terlepas dari beban-beban hidup. Bunuh diri, mungkin cara terpraktis. Berbagai macam cara bunuh diri dilakukannya. Tapi Inah selalu gagal mati. Bukan! Bukan karena Inah punya ramuan immortal layaknya Nicholas Flammel, Sang Alchemis. Bukan! Mati memang tujuan akhir Inah mengakhiri deritanya, tapi kenekatannya tidak cukup kuat untuk menggiringnya mati. Inah terlalu takut untuk mati. Belum siap untuk merasakan tubuhnya terbujur kaku dan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat di alam kubur karena tidak ada kesiapan amalan seperti yang dipelajarinya waktu mengikuti pengajian di kampung.

Inah harus memutuskan hidupnya sendiri. Terlalu lama jika harus menunggu ajalnya datang. Inah mendapatkan inspirasi mengakhiri hidupnya seperti berita di koran. Tidak terlalu sakit, mungkin. Tapi pasti dalam sekejap akan mati. Inah berpikir inilah saatnya!

Inah mendatangi proyek pembangunan gedung bertingkat. Memutuskan untuk melompat dari gedung saja. Inah mengambil ancang-ancang untuk mengakhiri hidupnya sambil memejamkan mata tidak berani menghadapi kematian dengan terbelalak. Inah bersiap melompat namun suara-suara kecil memenuhi rongga otaknya. Suara panggilan manja seorang anak yang menyebutnya, “Mama! Mama!” membelalakkan mata Inah. Naluri keibuan muncul. Inah memaksakan diri menepiskan semua rasa itu. Ego mendominasi keputusannya. Ada perang batin disana. Melompat mati atau melompat bahagia. Tapi, benar adanya jika kasih sayang kerap mengalahkan ego. Dan, Inah memutuskan untuk membatalkan semua rencananya mati.

Dan inilah keberanian yang sesungguhnya.

 

Siapa Lagi Ingin Jadi Kritikus Film? December 9, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 7:06 am
Tags:

 

MENJADI kritikus film di negara ini ternyata sangat mudah. Tidak perlu prakualifikasi, tidak seperti seorang pakar ekonomi yang minimal perlu gelar sarjana ekonomi atau pengalaman sebagai seorang praktisi bisnis. Kredensial seorang kritikus film kita berkisar dari pemerhati film, kataloger film, penggiat film, hingga wartawan khusus film.

Maka, tidaklah mengherankan jika resensi film yang tiap minggu kita baca di beberapa media besar seperti saling sahut-menyahut, hampir seragam dalam penafsirannya, ataupun kisaran penafsirannya. Kritikan para ’kritikus’ ini pada akhirnya tidak ubahnya muntahan segar seorang penonton, sebuah impresi superfisial tentang sebuah karya. Tidak bisa ditanggapi sebagai sebuah kritikan. Karena tulisan seperti itu tidak menukik ke dalam eksplorasi-eksplorasi pemikiran.

Kritikus seperti ini digambarkan oleh Roland Barthes sebagai kritikus neither-nor, kritikus bukan ini atau itu. Intinya, penulis seperti itu bukanlah seorang kritikus sejati karena untuk membedah setiap detail gambar, suara, kerangka, makna, pergelutan ungkapan seorang sutradara, dibutuhkan kepiawaian yang setara pula. Untuk merinci sinematografi, seorang kritikus diharapkan punya kualifikasi juga dalam bidang ini, seperti pencahayaan, pengambilan sudut gambar, penggunaan lensa kamera, problema digital dan seluloid dan bahasa visual seorang sutradara. Untuk kerangka sebuah film, diharapkan kritikus itu paham tentang penyuntingan film, struktur narasi, penguasaan genre film tertentu, konsistensi karakterisasi, nada yang ditekan pada satu titik atau titik-titik tertentu.

Dia juga bukan seorang pemikir. Untuk mengkritik sebuah karya, boleh saja seorang kritikus tidak menguasai semua aspek perfilman, tetapi ia dituntut bisa berpikir secara sistematis. Ini adalah kriteria utama yang memisahkan seorang kritikus sejati dengan kritikus bukan ini atau itu.

Penonton vs kritikus

Tidak seperti seorang pencipta yang senantiasa ditantang untuk membongkar rujukan-rujukan estetika, seorang kritikus dituntut untuk bisa memetakan sebuah pemikiran. Apa pun bentuk pemikiran itu, asal ia segar, merupakan sebuah respons puitis, berjarak, dan tidak frontal.

Kritikan adalah sebuah pemikiran yang mengarah ke satu arah (Barthes): ke arah kesimpulan pemikiran. Ketika kritikus itu memutuskan menulis sebuah kritikan, ia sebenarnya merespons pada bahasa. Pertama pada bahasa secara literal, kemudian pada bahasa karya itu.

Saat kritikus itu menuangkan pemikirannya ke dalam sebuah tulisan, pemikirannya mau tidak mau patuh pada bahasa dengan segala aturan gramatika dan sintaksisnya. Dengan kata lain, tatanan bahasa dan logika bahasa itu memaksa sebuah pemikiran yang tersadur dalam bahasa mau tidak mau merunut dan terarah (ke sebuah kesimpulan makna).

Kritikus itu juga merespons pada bahasa sebuah karya. Bahasa yang dimaksudkan tentunya adalah gaya sebuah karya: gaya dalam penuturan, penyeleksian, penekanan pada obyek-obyek tertentu dalam sebuah karya, keunikan ekspresi (dalam dialog ataupun karakter) dan metodologi dalam membangun sebuah bagan karya. Sang kritikus akan mencari sebuah serat atau serat-serat bahasa di dalam karya itu untuk kemudian dirajut kembali menjadi sebuah pengupasan segar, terarah, dan kohesif.

Seorang kritikus menonton sebuah film tidak seperti seorang penonton biasa. Seorang penonton biasa menonton sebuah film karena hasrat. Hasratnya terpicu untuk menonton, memahami, menikmati sebuah film. Maka, hubungan antara penonton dan film bermula dari subyek yang ingin mendominasi sebuah obyek. Tujuan sang penonton biasa boleh digambarkan sebagai sebuah hasrat yang agresif.

Penonton biasa dan film yang ditonton terjalin dalam sebuah hubungan yang sepihak, yaitu melalui hasrat subyektivitas penonton pada obyek, yakni film: maka hubungan ini lebih tepat kalau digambarkan sebagai sebuah hubungan fisikal ketimbang mental. Oleh karena itu, ketika seorang penonton biasa berkomentar tentang sebuah film, artikulasi bentuk oralnya hanya bisa kita tafsir sebagai sebuah reaksi, atau impresi, yang tidak berakar pada sebuah pemikiran yang terarah karena ia hanya sekadar artikulasi, tidak terbangun dalam sebuah sistemasi pemikiran yang hanya bisa terwujud dalam sebuah tulisan. Artikulasi tidak bisa ditangkap dalam sebuah bagan real, kecuali dalam tulisan. Ia hambur dalam ketiadaan begitu sebuah ungkapan terucap. Untuk supaya sebuah artikulasi bisa terwujud menjadi kenyataan (menurut Derrida), subyek perlu mati dahulu. Maka, dalam hal ini, kita tidak memiliki banyak pilihan selain merujuk pada pemikiran Mallarmé, yang juga diandalkan oleh Barthes: yaitu menangkap dahulu imanen (ilahi) berkelabat dalam kata-kata kemudian membiarkannya memudar kembali ke antah berantah ketika kata-kata itu tersusun rapi dalam satu bait puisi (atau kalimat).

Pendekatan seni kritik

Sublasi (asimilasi entitas kecil ke dalam bagan yang jauh lebih besar). Menurut Harold Bloom, semua karya mempunyai dna dari karya-karya sebelumnya. Susan Sontag belajar dari John Cage, sang komposer yang terkenal karena komposisinya diseling banyak kesunyapan tak berdenting, pernah menyatakan bahwa di era modern ini hampir tidak mungkin lagi bagi seorang pencipta seni untuk melepaskan diri secara signifikan dari pengaruh-pengaruh pencipta seni sebelumnya. Kemungkinan yang masih ada adalah eksplorasi-eksplorasi di pinggir-pinggir kerangka, atau seperti John Cage, melawan dominasi pengaruh pencipta sebelumnya dengan sebuah kesunyapan. Hanya itu satu-satunya cara untuk memotong ari-ari kepengaruhan pada karya-karya sebelumnya. Kepiawaian seorang pencipta pada saat ini sangat tergantung kelincahannya dalam mengsublasi berbagai pengaruh ke dalam karyanya sehingga sebuah makhluk eklektis baru, karya paduan berbagai materi, bisa tercipta. Seorang kritikus yang berwawasan harus bisa secara saksama mendata/merinci pergumulan eklektis dalam sebuah karya.

Puitis, Menyamping. Di bagian ini, saya kira kita bisa meminjam dari Alain Badiou dan Gilles Deleuze untuk memberikan sedikit pengarahan yang berguna. Bagi Alain Badiou, sebuah karya seni ibaratnya sebuah event. Karena setiap kejadian adalah unik, maka dalam keterperangkapan kita dalam situasi baru yang masih baru itu, sangatlah susah bagi kita untuk mengupasnya secara langsung. Karena kita masih terperangkap dalam sebuah ungkapan yang masih belum bisa dikategorikan ataupun direduksi menjadi sebuah pernyataan konkret, satu-satu cara untuk bisa mengupaskan karya itu adalah secara tidak langsung (indirect) dan puitis. Yang dimaksud secara tidak langsung dan puitis adalah sebagai berikut: seorang kritikus perlu merespons sebuah karya dengan berkarya seni atau mencoba mengitari karya itu di pinggiran, tidak frontal, tetapi puitis.

Kita juga bisa memetik banyak pengetahuan dari apa yang Deleuze peroleh ketika ia mewawancara Francis Bacon, rupawan Inggris yang terkenal dengan lukisan-lukisannya yang mencoba menangkap sebuah jeritan. Ketika ditanya Deleuze bagaimana ia menilik kembali karyanya setelah karya itu selesai dikerjakan, Bacon menjawab bahwa ketika ia mengerjakan karya, ia memakai satu set teori yang berbeda dengan ketika ia mencoba menelaah kembali karyanya setelah selesai. Dari sini, Deleuze mendapatkan kesimpulan bahwa ketika kita melihat sebuah karya seni, kita tergugah melampaui diri kita. Respons kita tidak beranjak dari ego, tetapi dari sebuah perasaan yang sangat kuat. Karena keterpanahan kita pada sebuah karya tidak berhubungan dengan ego kita, maka kita memandang sebuah karya seni dari sebuah jarak. Intinya, penilaian kita tidak berdasarkan sebuah reaksi personal sarat pradugaan pribadi. Maka, apa yang sering kita baca dalam berbagai ulasan film seperti kata nasi basi atau omong kosong dan kata-kata seperti itu, hanya mencerminkan sebuah reaksi yang tidak puitis dan sangat frontal. Begitu kita membaca penulisan kritikus dengan perbekalan kosakata seperti itu, kita langsung bisa menilai penulis itu hanya sebatas kritikus bukan ini atau itu.

Verisimilasi vs Realitas. Kita sering juga menemukan dalam resensi film keluhan tentang pencipta film yang kurang memiliki latar belakang tertentu sehingga ia gagal membangun sebuah realitas yang meyakinkan. Seperti film Riri Riza, Tiga Hari untuk Selamanya pernah dikritik oleh seorang kritikus dengan kata-kata yang berkisar pada kegagalan Riri Rizi pada film itu karena ia tidak mempunyai latar yang memadai untuk mengupas lingkungan hidup atau kedudukan sosial seperti yang ditampilkan dalam filmnya itu. Tanggapan seperti ini perlu diluruskan dengan beberapa contoh yang membantu. Pertama, ketika kita membicarakan sebuah karya fiksi, asumsi pada sebuah khayalan ataupun impian langsung terbesit dalam ungkapan kita. Sudah jelas setiap pencipta seni punya asumsi ataupun impresi yang berbeda pada realitas: keunikan sudut pandangnya justru yang membuat kita tertarik pada karyanya. Jika seorang kritikus menuntut pada seorang pencipta seni supaya ia bisa membangun sebuah realitas yang dikenal oleh orang banyak, penuntutan ini saya kira lebih tepat kalau ia ditujukan pada karya dokumenter daripada karya fiksi. Keluwesan seorang pencipta seni senantiasa berada dalam permainan realitas. Kepintarannya membangun sebuah realitas bukan karena ia begitu mahir menciptakan sebuah realitas yang begitu menyerupai kenyataan, tetapi lebih pada bagaimana sang pencipta membuat realitas itu begitu hidup atau bernyawa. Jadi, realitas dalam karya-karya seni tidak berarti keselarasannya pada realitas, tetapi pada kebernyawaannya dalam sebuah karya.

Simulacra dan Gerakan Palsu. Gerakan sebuah film, menurut Deleuze, adalah sebuah gerakan palsu: pergerakan kontinuitas sebuah film merupakan sebuah ilusi yang tercipta ketika 24 frame film digerakkan dalam sedetik. Dan, ketika sebuah obyek ditangkap oleh kamera, apa yang ditangkap secara otomatis menjadi sebuah simulacra, sebuah jiplakan dari obyek asli. Dengan demikian, semua bentuk rekaman digital ataupun seluloid tidak mencerminkan sebuah kenyataan asli. Kita bisa belajar dari sini untuk menilai dengan benar apa yang dimaksudkan keaslian sebuah situasi atau karakterisasi sebuah karya film. Rujukan pada akhirnya kembali ke apa yang saya ungkapkan di atas, yaitu bukan ketergantungan pada verisimilasi karakter ataupun situasi pada realitas, tetapi pada kesenyawaan (lifeness bukan lifelikeness).

Semoga esai ini sedikit merepotkan mereka yang gandrung menulis kritikan film, tetapi tidak sudi mendalami bidangnya, dan mengajak mereka yang berpotensi untuk mengimbangi pergelutan pencipta seni sehingga sebuah dialog yang mengasyikkan bisa tercipta dan sebuah komunitas kesenian terbangun dengan sehat dan kekar untuk kemajuan bersama.

* Richard Oh, Penulis Novel; Penggagas Penghargaan Sastra Kathulistiwa Award

Sumber: Kompas, Sabtu, 29 November 2008 [Bentara, Hal. 36]Richard Oh

 

Tampuk Kekuasaan Si Sulung! December 8, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 7:40 pm
Tags:

Terlahir sebagai anak sulung dan anak perempuan satu-satunya di keluarga memang sangat menyenangkan. Ada kebanggaan memiliki tampuk kekuasaan yang ngga bisa digantikan oleh adik-adik. Meskipun tak jarang kekuasaan menyenangkan itu berisi ledakan emosi dan cucuran air mata. Hingga saatnya terjungkal.

SinggasanaKu, Dulu!Dulu panggilan “Kak” atau “Kakak” adalah kebanggaan saya. Gimana ngga? Walaupun adik-adik saya tumbuh lebih besar dibandingkan saya tetap saja mereka tidak bisa menggantikan kekuasaan saya. Ada power pada panggilan tersebut.

 ***

Saya boleh dong lebih belagu dari pada mereka? Merasa lebih mengetahui segala-galanya (walaupun kadang sok tahu). Mengagungkan sepenggal kalimat, “lebih dulu makan garam” adalah senjata paling ampuh untuk argumen-argumen yang belum tentu benar.

Saya ingat sekali bagaimana kehidupan saya di masa kecil.

Terbiasa hidup sendiri membuat ego saya menjadi lebih tinggi. Kehadiran adik dengan jarak umur 6 tahun dan 10 tahun tidak membuat saya belajar berbagi. Malah sebaliknya, saya menjadi pencemburu. Saya takut harus mempunyai saingan dalam hal apapun. Saya takut berbagi apapun yang saya miliki, termasuk Mama dan Papa yang dulu hanya milik saya sendiri.

Saya ingat betapa Mama dan Papa berusaha sabar menghadapi tingkah-polah anak-anaknya. Walaupun saya tahu terkadang kesabaran mereka habis saat berhadapan dengan tangisan dan teriakan kami di waktu kecil.

“Harusnya yang lebih tua yang ngalah dong!” ujar Mama berkali-kali jika saya dan adik-adik mulai ribut memperebutkan sesuatu. Tapi, karena saya terbiasa menjadi prioritas maka saya akan terus berusaha mendapatkan apa yang saya mau. Walaupun harus adu kencang menangis.

Masa kecil saya sebagai pemegang kekuasaan “anak tertua” belum mampu digoyahkan. Saya tetap petantang-petenteng jika berhadapan dengan kedua orang adik laki-laki saya. Memamerkan label yang tertempel secara tersirat di kening, “Kak Ly tuh lebih tua. Lebih disayang. Adek mau apa?” dengan sombongnya.

Lebih disayang? Rasanya ngga, kok. Itu hanya buat menciutkan nyali adik-adik kalau mereka mulai ingin menggeser posisi saya. Pada dasarnya, saya lah yang takut kalau adik-adik saya lebih disayang Mama dan Papa.

Ada saatnya, ketika saya mulai kelewatan mencemburui adik-adik maka Mama mengatakan, “Ly, coba Ly lihat selama ini barang-barang siapa yang lebih mahal? Punya Ly, Haqqi, atau Azham? Barang Ly kan? Pernah ngga adik-adik cemburu?” 

Saya pun biasanya hanya bisa diam.

Kalau dipikir-pikir Mama memang benar. Dari kecil, Mama terbiasa membelikan saya barang-barang dengan brand tertentu saja. Baju-baju dan sepatu saya harus dibeli di plaza-plaza besar di Medan. Adik-adik saya? Mereka terlihat cukup puas hanya dengan barang-barang made in Petisah (seperti ITC kalau di Jakarta). Saya tidak melihat mereka mengeluh ketika barang-barang saya lebih mahal dari mereka. Bahkan mereka turut menyumbangkan jatah belanjanya jika saya menangis karena ingin jumlah baju dan sepatu yang sama dengan jumlah mereka padahal jatah belanja saya telah habis.

Dari kecil, saya mengetahui satu trik bahwa menangis adalah senjata paling ampuh untuk menaklukkan dunia keluarga termasuk mengetuk hati adik-adik saya. Dan sudah menjadi rahasia umum jika senjata itu sering kali saya keluarkan demi memenuhi semua keinginan saya.

Bahkan ketika saya memasuki bangku SMU, dengan muka sedikit cemberut dan mengeluh tentang padatnya kegiatan di sekolah tapi ngga punya kendaraan membuat kunci Starlet menjadi milik saya. Lagi-lagi adik-adik saya tidak memperlihatkan kecemburuannya walaupun saya ngga pernah berbasa-basi mengajak mereka berangkat kesekolah bersama-sama padahal jarak sekolahnya berdekatan dengan sekolah saya. Mereka juga terlihat cukup senang menikmati fasilitas antar-jemput bus sekolah yang disediakan perusahaan tempat Papa bekerja.

Itu hanya beberapa contoh, bagaimana kekuasaan sebagai anak tertua dan satu-satunya anak perempuan di keluarga saya jalankan.

Saya ingat, bagaimana Papa mencarikan informasi tentang perguruan tinggi di Pulau Jawa membuat saya kesal. Saya merasa Papa dan Mama ingin menyingkirkan saya dan membuang saya jauh dari rumah. Agar ngga ada lagi anak yang merengek-rengek menangis kalau meminta sesuatu. Atau agar ngga ada lagi ribut-ribut antar anak kalau memperebutkan sesuatu. Saya saat itu tambah yakin, kalau Mama dan Papa lebih sayang sama kedua adik saya.

Awalnya, kata-kata bijak Papa hanya saya anggap rayuan agar saya mau dihengkang paksa secara halus, “Ngga ada anak yang lebih disayang. Semua sama. Papa Mama hanya ingin ngasi yang terbaik buat masa depan Ly. Kuliah yang benar, ya? Tunjukkan kalau Ly adalah panutan adik-adik. Kalau Ly sekolahnya benar, maka adik-adik akan mengikutinya.”

Tapi, semua pemikiran itu berubah. Pemikiran yang didasari oleh ego takut tersaingi itu berangsur-angsur menghilang saat saya melihat mata Mama, Papa, Haqqi, dan Azham basah ketika mengantarkan saya ke airport Polonia Medan menuju Jakarta. Pelukan dan ciuman mereka mulai sedikit menyadarkan saya bahwa selama ini saya terlalu angkuh untuk membaca cinta mereka.

Kini, setelah beberapa tahun terbiasa tanpa perasaan cemburu saya mulai melihat kenyataan. Walaupun singgasana saya belum ada yang berani menggesernya tapi perubahan-perubahan yang terjadi membuat saya merasa malu kalau masih merasa diri sebagai panutan adik-adik.  

Gimana ngga? Seiring dengan pertambahan usia, adik-adik saya tumbuh menjadi anak laki-laki yang menakjubkan. Mereka yang ketat dengan tanggung jawab kini membuat saya ngerasa ngga ada apa-apanya selain ego. Gelar anak tertua sebagai contoh tertinggi bagi adik-adik mulai menciutkan kesombongan saya.

Yah lihat saja.

Adik saya yang pertama, Haqqi baru berumur 20 tahun dan masih berstatus mahasiswa psikologi di Maranatha. Lihat apa yang dia punya? Dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri sejak dia berada di bangku SMU. Barang-barang mewah yang dia punya berasal dari perasan keringatnya sendiri. Dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya dia bisa mengerjakan berbagai macam hal dan tanpa gengsi walaupun bersekolah dilingkungan elit. Bahkan ketika dia lulus nanti, pintu untuk menjadi Psikolog Militer sudah didepan matanya.

Apa yang terjadi pada adik saya yang terkecil? Azham sekarang duduk di bangku SMU kelas 2. Dia pun mengikuti jejak abangnya (pastinya) dan bukan kakaknya. Mulai berkenalan dengan dunia “butuh duit” tambahan. Pementasan teater, kabaret, dan band dilakoninya, sampai mendesign dan menjual pin pun dijalaninya. 

Harusnya remaja seumur adik-adik saya sedang menikmati masa-masa remaja dengan banjiran fasilitas orang tua. Mereka malah sebaliknya. Mereka berusaha memahami keadaan dimana perekonomian dirumah mulai ngga stabil sejak Papa pensiun dan proyek Papa di”kerjai” orang sampai habis total dan kami harus mulai semuanya dari nol lagi. Tapi, saya ngga pernah melihat muka mereka cemberut dan mengeluh, “Kak Ly sih enak, dulu dibelikan bla bla bla” atau “Kak Ly dulu punya bla bla bla tapi kami bla bla bla”. Bisa aja kan? Harusnya mereka bisa saja menyalahkan Papa dan Mama atas ketidakadilan nasib ini, kan? Ngga! Mereka ngga melakukannya. Mereka terlihat tetap semangat.

Tapi, bagaimana jika saya yang mengalami itu semua?

Saya mungkin hanya akan menangis mengurung diri dikamar sepanjang hari karena ngga bisa lagi menadahkan tangan kepada Papa atau Mama untuk membeli apapun yang saya inginkan. Saya yang terbiasa dimanja dan dituruti semua keinginannya, ngga  pernah mengenal kata, “Nanti ya, Nak. Kalau uangnya sudah ada,” atau “Sabar dulu ya?”

Tapi, adik-adik saya berbeda.

Saya ingat satu hal dulu sekali ketika saya bertanya pada Mama, “Ma, kenapa Adek ngga dibeliin barang bermerek seperti Ly?” Mama hanya menjawab, “Kalaupun Mama dan Papa mampu membeli semua baju dan sepatu kalian di plaza, tapi itu ngga kami lakukan karena kami ingin suatu hari nanti Haqqi dan Azham belajar hidup sederhana. Ngga seperti Ly.”

Disatu sisi akan terlihat bahwa saya dan adik-adik saya dididik dengan pola yang berbeda. Dan itulah yang terjadi. Adik-adik saya tumbuh menjadi sosok yang lebih bijak dalam menyikapi hidup. Mereka lebih sederhana, ngga neko-neko, lebih menghargai artinya uang, dan belajar tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dan keluarga.

Saya semakin malu akan kebanggaan yang (sempat) saya miliki. Sekarang predikat Kakak Tertua yang “paling..” mulai di hapus sedikit demi sedikit.

Gimana ngga? Adik-adik saya lebih hebat dibandingkan saya. Mereka lebih tangguh. Mereka bahkan lebih mandiri. Mereka selalu menyediakan telinganya setiap saat untuk mendengarkan semua curhatan saya dan memberikan solusinya. Mereka juga mendengarkan keluh-kesah Mama dan menenangkannya disaat saya berada beribu kilometer jauhnya dari rumah. Mereka mendengarkan rencana-rencana Papa dan mendukungnya disaat saya kadang hanya bisa tersenyum menanggapi mimpi-mimpinya.

Sekarang saya malah sangat mengagumi adik-adik saya. Saya merasa betapa beruntungnya saya memiliki mereka dalam hidup saya. Semangat mereka menulari saya dan mampu merubah pola pikir saya yang beranggapan bahwa sebagai si Sulung, saya memiliki tampuk kekuasaan yang ngga bisa digantikan oleh adik-adik saya. Namun, ada kalanya saya harus mengakui pula, “Ngga selamanya Kakak harus lebih tahu segalanya dan menjadi panutan, kok!” dengan ditambah sedikit kalimat, “Yah, hanya sedikit lebih berpengalaman aja.” 


** Tapi tetap saja, panggilan “Kak Ly” akan terus membekas sebagai sisa-sisa kejayaan masa lampau. ;) **

 

 

I’m A Sanguine Women! December 8, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 7:03 pm
Tags: ,

Strengths of a Sanguine

The Extrovert | The Talker | The Optimist

The Sanguine’s Emotions 

  • Appealing personality
  • Talkative, Storyteller
  • Life of the Party
  • Good sense of humor
  • Memory for color
  • Physically holds on to listener
  • Emotional and demonstrative
  • Enthusiastic and expressive
  • Cheerful and bubbling over
  • Curious
  • Good on stage
  • Wide-eyed and innocent
  • Lives in the present
  • Changeable disposition
  • Sincere at heart
  • Always a child
The Sanguine As A Parent 

  • Makes Home Fun
  • Is liked by children’s friends
  • Turns disaster into humor
  • Is the circus master
The Sanguine At Work 

  • Volunteers for Jobs
  • Thinks up new activities
  • Looks great on the Surface
  • Creative and colorful
  • Has energy and enthusiasm
  • Starts in a flashy way
  • Inspires others to join
  • Charms others to work
The Sanguine As a Friend 

  • Makes friends easily
  • Loves People
  • Thrives on compliments
  • Seems exciting
  • Envied by others
  • Doesn’t hold grudges
  • Apologizes quickly
  • Prevents dull moments
  • Likes spontaneous activities.

(truly) Like Me! Hmmm…

 

Es Kwartet December 8, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 6:44 pm
Tags:

 

Es KwartetBahan: 

1 bks agar – agar
500 ml air
150 gr gula pasir
¼ sdt pewarna hijau
¼ sdt pewarna merah
500 ml santan dari ½ bh kelapa
½ sdt garam halus
200 gr buah nangka
150 gr buah jagung maning kalengan, tiriskan
150 gr nata de coco
15 sdm syrup
Es serut secukupnya

Cara membuat:
1. Masak agar – agar, gula pasir dan air. Bagi dua adonan dan beri masing – masing warna.
2. Masak santan beri sedikit santan
3. Potong agar – agar 1x 1 x 1 dan nangka ½ x 3 x ½ .
4. Sediakan gelas , masukan sedikit nangka, nata de coco dan agar – agar.
5. Tuangi santan, syrup dan es serut ke dalam gelas yeng berisi tadi.