“SUMPAH PEMUDA.
Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.”
Satu sumpah setia yang diucapkan oleh putra-putri anak bangsa sebagai wujud semangat persatuan dan rasa nasionalisme terhadap tanah air yang dicinta, Indonesia. Ada kedalaman tekad dalam setiap untai sumpah yang disiratkan. Ada luap penuh harapan dan tanggung jawab sebagai bukti akan kecintaan atas negara tempat kaki dipijakkan dan darah mengalir dalam setiap relung sanubari. Bukan sembarang sumpah dan ini sumpah setia para pemuda yang harus terus dipertanggung-jawabkan kemarin, hari ini, dan besok kepada negara.
Buliran semangat ini bukan tanpa dasar. Persamaan sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan yang mengantarkan Sumpah Pemuda sebagai pemersatu jiwa persatuan para pemuda. Ada kekuatan dalam setiap rasa kebanggaan menjadi anak-anak bangsa dan diwujudkan menjadi sebuah pergerakan nasional untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih baik dan bebas merdeka.
Kebangkitan nasional yang digerakkan oleh pemuda pun dimulai dan inilah yang menjadi titik tolak menuju kemerdekaan Indonesia yang berdaulat, menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa di mata dunia. Tidak ada kata takut, yang ada hanyalah tekad bahwa tanah air harus dimerdekakan. Setiap jengkal tanah Indonesia berisi darah pemuda yang terus tumbuh subur dan tidak akan pernah layu menjadi repihan.
Dan, disinilah perjuangan para pemuda akan dituturkan. Bukan untuk mengharapkan pujian dan ucapan terima kasih karena tidak ada kata pamrih atas nama bangsa. Cerita ini dipaparkan untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan dan kecintaan kepada tanah air agar tidak pernah surut.
Aku, Soeripto berada disana dan menjadi bagian dari kisah perjuangan yang dilakukan oleh para pemuda. Tahun demi tahun aku lewati bersama raga penuh gelora milik pemuda Indonesia, meneteskan keringat perjuangan dan kebersamaan, bernyawa persatuan demi mencapai satu niat mengantarkan bumi Indonesia ke pintu kemerdekaan.
1908
Masih terekam diingatanku bagaimana masa-masa sulit itu aku lewati. Umurku tepat berusia sekitar 10 tahun, saat itu. Saat dimana kebodohan dan kemiskinan membelenggu. Ah, rasanya Aku tidak bisa menggambarkan dengan sempurna, betapa menyakitkan dan menderitanya berada dalam belenggu penjajahan Belanda.
Kesempatan untuk merubah nasib pun datang. Saat Belanda menjalankan Politik Etis di bumi Hindia Belanda (nama untuk Indonesia saat itu). Ntah bagaimana awalnya. Pada saat itu, seingatku, Aku merasa sangat bahagia karena diberikan kesempatan untuk bisa membaca dan menulis. Aku sudah tidak sabar rasanya ingin membaca semua tulisan yang Aku temukan saat itu sebagai upaya melatih kemampuanku. Walaupun bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar, bagiku tidaklah masalah. Aku masih terjebak dengan perasaan bahagia tidak terperi. Akhirnya, Aku melek huruf.
Mana pernah Aku tahu dengan detail kalau Politik Etis yang dijalankan oleh pemerintahan Belanda untuk membayar hutang kehormatan terhadap Jawa. Aku terlalu kecil untuk mengerti. Tapi dengan bertambahnya usia dan juga pengetahuan, Aku mengerti kenapa pemerintah Belanda menerapkan Politik Etis di tanah jajahannya, Hindia Belanda. Mungkin Belanda menyadari bahwa terlalu banyak hutang budi kepada Hindia Belanda. Bukan saja dijajah, tapi hasil alam Hindia Belanda dikeruk sampai habis demi kepentingan Belanda. Rakyat Hindia Belanda, tidak bisa menolak karena Belanda tidak pernah meminta melainkan merampok sepuasnya tanpa tedeng aling-aling. Alangkah nikmatnya menjadi penguasa dan penjajah di atas tanah bergelimang harta berisi kesuburan dan limpahan karun yang bersemayam di dalam sepetak tanah bernama Indonesia.
Namun, pelan-pelan rakyat Hindia Belanda mulai menyerap segala ilmu yang diberikan lewat Politik Etis. Begitu pun halnya denganku. Aku menyerap semua ilmu dan pelajaran yang Aku terima dengan sebaik-baiknya. Aku semakin menyadari bahwa pendidikan adalah satu hal besar yang aku butuhkan untuk keluar dari semua belenggu penjajahan. Semangatku untuk belajar terus tumbuh, melihat aksi para pemuda (yang umurnya berada jauh diatasku) melakukan pergerakan.
Aku mempelajari satu hal penting bahwa pendidikan menjadi kunci menuju kehidupan yang lebih baik. Berawal dari kesadaran itulah, pemuda bangkit. Pendidikan merupakan akar terbentuknya kecerdasaan bangsa, terlebih lagi pendidikan kebangsaan. Kesadaran ini yang akhirnya menjadi cambukan terjadinya pergerakan agar Indonesia tidak lagi menjadi negara terjajah. Tidak lagi diinjak-injak harga dirinya apalagi martabat kebangsaannya.
Rasa cintaku pada tanah air pun tumbuh. Seiring berjalannya waktu. Aku ingin suatu hari nanti, kelak ketika Aku dewasa, Aku bisa menjadi salah satu dari tokoh yang menggiring Indonesia ke arah kemerdekaan.
Proses pendidikan berjalan. Perbaikan pendidikan yang paling berarti adalah sistem sekolah dasar kelas satu dan dua yang dibuka secara kecil-kecilan untuk orang Indonesia. Terdapat pemisahan, dimana sekolah kelas satu ditujukan untuk golongan atas, sedangkan kelas dua khusus untuk rakyat jelata. Lama pendidikan untuk kelas satu ditempuh dalam waktu lima tahun dan mempelajari bahasa Belanda, di tahun keenam, bahasa belanda dijadikan bahasa pengantar dalam proses belajar-mengajar. Kelas dua menjadi standard schoolen atau sekolah standar untuk mereka yang menggeluti dunia perdagangan dan kelas ini dipadati oleh orang China.
Saat itu, ada beberapa hal yang terus menjadi tanda tanya di benakku. Memang, Aku yang merupakan salah seorang anak priyayi mendapatkan kesempatan lebih besar untuk belajar. Duduk di bangku kelas satu dan mengenyam pendidikan yang lebih baik dibandingkan pelajar di kelas dua. Tapi perasaan ngiris menerpa, kenapa saudara sebangsaku dalam memperoleh pendidikan hanya dibatasi oleh kedudukan sosial? Pentingkah perbedaan sosial dibawa sampai ke jenjang pendidikan?
Aku melihat dengan mataku. Semangat untuk mengeyam pendidikan dan merasa bahwa pendidikan penting pun menjangkiti setiap pribumi. Ada keinginan besar mencerdaskan diri demi kemajuan bangsa dan tidak ingin lagi dibodoh-bodohi penjajah. Pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bisa dibandingkan dengan nilai apapun. Segera disadari pendidikan akan mendatangkan kemajuan bagi masa depan bangsa, sehingga bebas dari belenggu kebodohan dan keterpurukan akibat terjajah.
Satu-per-satu, orang-orang pribumi berangkat ke sekolah dengan kesadaran sendiri. Tidak lagi memandang usia, semua berebut bermimpi menjadi yang terbaik dan bisa menyelamatkan negara dari segala bentuk keterbelakangan. Pengelompokan kelas terjadi, dan diukur berdasarkan usia, dimana rentang usia yang tidak begitu jauh disatukan dalam satu kelas untuk mendapatkan pelajaran bahasa Belanda. Pendidikan dasar yang bertujuan agar menjadi fasih dan faham dalam setiap mata pelajaran yang diberikan dengan pengantar bahasa Belanda.
Keingintahuanku semakin menyala bagai kembang api. Segala macam ilmu dan pengetahuan Aku kumpulkan dengan satu tujuan memuaskan hasrat belajarku untuk mengenal bangsa. Aku sangat bersyukur, apa yang Aku inginkan tercapai tanpa harus menunggu lama. Jiwa-jiwa ingin tahuku yang bergentayangan pun terjawab. Aku melihat satu-per-satu media massa buatan anak bangsa (terutama pemuda) beredar. Aku menemukan jurnal Bintang Hindia yang digagasi oleh Abdul Rivai.
Aku sangat senang membaca setiap untai kata yang dituliskan Rivai. Rivai mengurai gagasan dan ide-idenya yang provokatif di jurnal Bintang Hindia. Aku bisa merasakan bahwa Rivai menaruh harapan besar untuk bisa mengakhiri penderitaan Hindia Belanda.
Sangat disayangkan, dengan berjalannya waktu dan kendala yang menerpa, jurnal “Bintang Hindia” tidak bertahan lama dan berhenti beredar tahun 1906. Tapi, ibarat kata pepatah, mati satu tumbuh seribu, inilah yang terjadi selanjutnya. Kematian “Bintang Hindia” segera digantikan eksistensinya oleh majalah “Ratnadhoemilah”. Adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo sebagai dalang dibalik pemunculan majalah “Ratnadhoemilah”. Dan tak lama kemudian, koran Medan Prijaji terbit atas prakarsa Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, seorang tokoh pers yang dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Hindia Belanda.
Kehadiran media massa ini membuat rakyat Hindia Belanda lebih berani mengemukakan semangat dan tekadnya. Ruang-ruang diskusi pun terbuka. Aku bisa melihat, bagaimana para pemuda berdiskusi dimana saja tanpa perasaan takut. Mereka membahas isi jurnal atau koran yang telah mereka baca dan mencari peluang untuk melakukan gebrakan.
Gebrakan pun dimulai oleh Soetomo. Soetomo berpikir sekarang lah saatnya mengambil prakarsa menolong rakyat sendiri dengan mendirikan perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura dengan harapan akan bisa memperbaiki nasib bangsa dimana perkumpulan ini bersifat terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, dan pendidikannya. Aku belum bisa bergabung, umurku belum cukup untuk mengikuti rapat-rapat rahasia yang mereka lakukan. Aku hanya berani mengintip dan mencuri dengar apa yang mereka perbincangkan. Semua itu demi untuk memuaskan rasa penasaranku.
Sampai pada satu hari, Aku mendengar berita bahwa telah berdiri organisasi Boedi Oetomo pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi. Kehadiran organisasi Boedi Oetomo disambut dengan gempita dan segera menyebar sebagai berita besar dengan gaungan akbar Boedi Oetomo lahir secara demokratis sebagai organisasi pertama di Hindia Belanda yang di pelopori oleh ide hebat kaum muda dan dipimpin oleh kaum tua. Rakyat semakin yakin, kehadiran Boedi Oetomo akan membawa angin segar bagi pembaharuan Hindia Belanda untuk melawan dominasi Belanda di Hindia Belanda. Satu langkah telah ditempuh oleh anak bangsa.
Mengikuti jejak suksesnya Boedi Oetomo, maka satu-per-satu organisasi pemuda pun muncul di tanah Hindia Belanda. Semua organisasi bergerak dengan satu tujuan kemerdekaan bagi tanah Hindia Belanda. Darah penuh gairah para pemuda bergelora. Semangat mempersatukan kekuatan lewat persatuan dan kebersamaan memuncak. Pemuda bergandengan-tangan dan saling bahu-membahu membangun martabat bangsa. Aku tidak pernah lupa moment-moment berharga seperti ini. Tokoh-tokoh besar yang berasal dari pemuda pun mulai mencuat kepermukaan. Aku tahu bahwa Belanda mulai mengkhawatirkan menjamurnya organisasi pemuda, ada ketakutan kekuatan yang dihimpun pemuda semakin kuat dan akan menjatuhkan Belanda dengan skak-match. Wajar, jika ketakutan itu muncul. Ada bola api yang semakin membesar atas kemerdekaan Hindia Belanda yang dirasakan oleh Belanda.
Tahun 1913. Batavia semakin bergejolak. Semangat perlawanan kaum muda semakin tumbuh. Partai yang anti-kolonial dan bertujuan kemerdekaan Indonesia ini dibubarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda setahun kemudian, 1913. Ki Hajar dan Tjipto Mangoenkoesoemo dibuang ke negeri Belanda. Douwes Dekker ditangkap kemudian dibuang ke Suriname.
Tak sabar rasanya menunggu menjadi pemuda. Agar Aku bisa mencemplungkan diri dalam pergerakan. Dan kesempatan itu datang padaku. Aku berusia 24 tahun saat Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, “Hindia Poetra”, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Aku bangga menjadi bagian dari pergerakan itu sekarang. Bangga menyandang gelar sebagai wartawan di majalah Indonesia Merdeka. Sangat bangga. Aku bangga bisa menuliskan semua yang Aku tahu dalam kolom-kolom majalah yang menjadi wewenangku. Aku ingin sekali untuk mengajak rakyat negeri ini bergerak dan mengepalkan tangan ke udara dengan berteriak “Merdeka” sekeras-kerasnya.
Satu tulisan Bung Hatta yang terus aku simpan dari potongan artikel di majalah Indonesia Merdeka, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. Kata-kata bijak yang keluar dari tulisan tangan seorang pemikir hebat dengan darah Indonesia mengalir disekujur tubuhnya. Aku semakin terlarut dalam kebanggaanku menjadi anak Indonesia. Nama negara yang indah, dan Aku tak berhenti menuliskan nama Indonesia dalam setiap kesempatan.
1928
Satu rekaman memori di dalam otak ini masih milikku. Aku mengenal rasanya jatuh cinta. Seorang gadis sederhana mengusik hari-hariku dengan pemikiran dan kontroversinya. Lastri telah merebut sebagian hati yang tadinya hanya kupenuhi dengan nama Indonesia. Aku terpukau pada sosoknya sebagai wanita yang ingin menentang tekanan dan patokan yang diberikan bagi kaum perempuan. Lastri bukanlah wanita terpelajar yang duduk di bangku sekolah milik Belanda karena dia terlahir dari keluarga rakyat jelata. Pengetahuannya tumbuh karena seringnya Lastri menghadiri setiap pertemuan pemuda dan mempelajari banyak hal disana dengan bertemu para tokoh pemuda hebat. Tapi, kecemerlangan berpikir Lastri yang membuat argumennya bisa diterima dalam setiap perdebatan. Lastri menanyakan dimanakah posisi kaum wanita diletakkan oleh bangsa sebagai bagian dari perjuangan. Lastri menuntut persamaan hak antara wanita dan laki-laki. Dengan pemikiran Lastri lah, para tokoh menyadari kalau selama ini kaum wanita dianggap sepele dan dinomor duakan. Lastri tahu bahwa kaum wanita sama kuatnya dengan laki-laki dan harusnya menjadi pertimbangan untuk ikut serta menggiring Indonesia ke arah pintu kemerdekaan.
Hari itu pun tiba. Satu hari besar. 28 Oktober 1928, setelah perjalanan panjang membentuk upaya perlawanan terhadap kolonial Belanda dengan tujuan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan dan sebagai bentuk aspirasi pemuda bagi negara lewat pendidikan dan kelompok organisasi, maka tekad untuk menjelaskan jiwa nasionalisme pun tiba pada waktunya. Tidak lagi bisa menahan diri untuk menyerukan rasa kecintaan dan kebanggaan terlahir sebagai putra-putri bangsa. Tidak ada lagi batas antara pemuda dan pemudi, semua tokoh muda berkumpul menyuarakan tekad dan membuktikan diri pada bangsa lewat satu janji setia para pemuda.
Lahirlah Sumpah Pemuda. Sebuah perjalanan penuh perjuangan dari segala gerakan yang pemuda lakukan untuk menggiring Indonesia ke pintu kemerdekaan. Hanya itu yang menjadi tujuan utama. Tujuan bisa bebas merdeka sebagai satu negara yang utuh. Tidak lagi dikendalikan oleh bangsa lain. Dan demi terwujudnya cita-cita besar, hanya kesatuan dan persatuan lah yang menjadi kunci utamanya. Satu sumpah diucapkan, sumpah ibarat janji yang diwakilkan pemuda saat itu untuk dititipkan dan diteruskan kepada pemuda Indonesia dari generasi ke generasi untuk terus dipertanggungjawabkan atas cinta dan bakti pada tanah air, untuk melakukan perubahan, dan diyakini bahwa Sumpah Pemuda menjadi tonggak sejarah bangsa untuk melanjutkan langkah dengan semangat menuju gerbang kemerdekaan.
Aku berdiri di antara pemuda yang menghadiri Kongres Pemuda. Tidak hanya untuk mencari bahan tulisan pada artikelku, melainkan Aku ingin bisa merasakan adrenalin yang berpacu saat Aku ikut mengucapkan sumpah setia kepada bangsa ini. Jiwaku berdebar, bulu kudukku merinding, aku terpukau dengan keindahan sumpah yang aku lontarkan dengan bibir bergetar namun penuh semangat. Aku bisa merasakan sakralitas sebuah sumpah berupa janji. Janji untuk terus menjadi pemuda Indonesia yang mengabdi pada negara.
Jantungku tak henti berdegup. Masih ada debaran berikutnya. Sebelum Kongres Pemuda ditutup, setelah pengucapan Sumpah Pemuda, diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola tanpa syair. Lagu Indonesia mampu membius perasaan peserta kongres. Walau tanpa lirik, tapi terdengar sakral dan indah. Tidak ada yang bisa menepis bulu kuduk yang berdiri saat setiap kali biola digesek. Ada rasa kecintaan yang semakin tumbuh dan rasa memiliki atas bangsa semakin besar. Tak perlu mendengar lirik, tapi setiap peserta merasa yakin, bahwa WR Supratman menuliskan lirik dengan tetesan cintanya pada tanah air. Tidak lagi ada kesangsian akan hal itu, biusan melodi indah telah berhasil membuktikannya. Rasa haru tidak dapat dibendung lagi, tetes-tetes cinta pada bangsa semakin besar dan merasa bangga telah menjadi bagian dari prosesi besar pengikraran sumpah setia, Sumpah Pemuda.
Saat itu pulalah, akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928. Alangkah beruntungnya AKu bisa berada diantara pemuda-pemuda hebat milik bangsa. Tekadku bertambah bulat, Aku harus bisa mengantarkan pintu kemerdekaan Indonesia bersama dengan para pemuda. Tak peduli apa yang harus dikorbankan, karena pengorbananku tidak akan seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan yang telah dilewati negeri ini.
Menuju 1945.
Pupus sudah kesempatan, tapi tidak dengan pengharapan. 8 Maret 1942, tanah air jatuh ke tangan Jepang dan itu berarti lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk seterusnya. Tapi hal ini bukan berarti Indonesia semakin dekat dengan harum-semerbaknya kemerdekaan, penderitaan demi penderitaan lah yang terjadi setelahnya. Tidak ada kata ampun selama masa-masa penjajahan Jepang. Rakyat Indonesia semakin terpuruk penderitaan. Tragis dan menyakitkan untuk dikenang tapi kebenaran harus dipaparkan, demi kepentingan sejarah dan membuat para generasi lebih menghargai setiap perjuangan yang telah dilakukan demi bangsa ini.
Sakitnya penderitaan anak bangsa saat dikuasai oleh Jepang lebih sakit rasanya dibandingkan pecutan cambuk atau pun sayatan belati. Tidak ada yang bisa mengerti perihnya, jika tidak merasakan sendiri. Hidup dalam penjajahan tidak lah pernah menikmati kenikmatan walau hanya sedetik pun. Kesewenang-wenangan Jepang benar-benar diluar batas, bagai binatang yang tidak punay perasaan hanya punya nafsu. Kekejaman-kekejaman silih berganti terjadi, hingga saatnya semua yang anarkhi pasti ada akhirnya.
Deritaku semakin bertambah. Aku menyaksikan perihnya dan rasanya tidak kuat lagi untuk berteriak memaki. Lastri yang telah menjadi istriku, ditarik paksa oleh tentara Jepang untuk menjadi pemuas hasrat tentara Jepang saat Aku berada di luar rumah untuk satu pertemuan. Ibu mertuaku tak peri menahan tangis dan perihnya, bahkan menceritakan deritanya kepadaku dengan cucuran airmata. Rasa dendamku pada Jepang semakin memuncak. Ingin kubantai habis semua turunan dan menguburnya di Lautan Pasifik agar tidak ada lagi jasad yang tersisa di bumi Indonesia. Arrgg, rasanya mengerang marah pun sudah sampai pada puncaknya.
Berita bahagia mulai sedikit membawa angin segar penuh harapan kebebasan. Kejadian bom atom di Hiroshima dan Nagasaki membuatku dan para rakyat bisa mencium adanya kabar gembira atas kekalahan Jepang. Tidak ingin menunggu lama, Jepang mencium tanah kekalahan dan menyatakan diri telah terpuruk kalah sebagai pecundang perang.
17 Agustus 1945
Aku tak sabar rasanya mendengar proklamasi kemerdekaan dibacakan. Sudah lama sekali, Aku dan rakyat Indonesia menanti saat-saat seperti ini terjadi. Kami sudah terlalu letih untuk terus dijajah. Capek ditindas, disemena-menakan, dirampas segala hak atas kehidupan. Aku ingin segera mencium aroma kebebasan. Aroma kemerdekaan pasti berbeda harumnya ketika berhembus di udara.
Aku berdiri di barisan depan. Ingin mendengar pernyataan proklamasi dengan seksama dan mengikuti acara dengan lebih sakral. Aku berkali-kali mengecek jam tanganku dan menunggu dengan penuh harap. Jiwa pejuangku muncul. Debarannya berbeda kali ini, Aku bisa merasakan debaran bahagia yang meletup-letup saat tepat jam 10.00 acara dimulai dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan dr. Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Dan, proklamasi pun berkumandang ke penjuru tanah air.
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17 – 8 – ‘45
Wakil2 bangsa Indonesia.
Soekarno – Hattas
Teriakan MERDEKA! Berkumandang dan terus-menerus tersirat di wajah-wajah penuh bahagia setiap rakyat Indonesia.
Kita telah meraih kemerdekaan, tapi perjuangan tidak lah terhenti sampai deklarasi Proklamasi. Masih banyak tugas menanti sebagai pemuda, masih banyak jalan yang harus kita lalui untuk membuat kemerdekaan tidak tersia-siakan. Indonesia masih harus melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Namun, semua itu tidak akan mungkin tercapai jika sebagai pemuda, kita hanya berpangku tangan mengharapkan belas kasihan.
Ayo bergerak! Bangkit! Bangkit layaknya pejuang! Ini waktunya kita membalas budi para pahlawan, pejuang kemerdekaan. Inilah saatnya menggiring Indonesia menapaki tapak langkahnya menuju masa depan gemilang.
Maka, atas nama pemuda mari bangkit sekarang dan tanamkan kedalam hati bahwa Sumpah Pemuda adalah satu bukti bahwa kita pernah berjanji kepada bangsa sebagai “Kami Putra dan Putri Indonesia”. Semangat itu harus terus membara karena kita punya tanggung jawab atas negeri ini.
Ingat!
Indonesia milik kita! Darah kita meresap ke dalam tanah yang kita pijak dan kita tumbuh dari setiap jengkal pemberian tanah-tanah Indonesia kepada kita. Biarkan gairah kecintaan sebagai anak bangsa meresap kedalam setiap sudut dari diri kita, sebagai pemuda harapan bangsa.
***