“Another Ice Cream..”

Life is feel like’s every Sunday! Licked ice cream with sundae!

Come Fly With Me to 7th Skies December 16, 2008

Filed under: Uncategorized — lnailufar @ 6:42 am
Tags:

Jika ciuman pertama membuat kita serasa terbang ke langit ke tujuh, lalu kenapa industri airline semakin menjamur? Jika dengan ciuman saja sudah bisa mengantarkan kita kesana, lalu buat apa ada pesawat terbang atau bahkan pesawat ruang angkasa? Harga tiket bahkan jauh lebih mahal dari harga ciuman, kan? Saat berspekulasi dengan teori pun dilakukan demi sebuah pembuktian.

***

Teori ngawur seorang sahabat ketika kami masih berseragam putih biru membuat saya selalu tersenyum setiap kali melakukan ciuman pertama kali dengan pacar-pacar saya. Yah, harusnya teori itu hanya berlaku untuk Ciuman Pertama saja, tapi saya selalu menganaloginya dengan setiap kali ciuman pertama kali dengan pacar baru.

Ntah mengapa itu yang ada di pikiran saya. Bisa jadi saya masih terus merasa excited setiap kali melakukan ciuman dengan seseorang di saat pertama kali. Saya ingin sekali bisa merasakan sensasi yang berbeda-beda dan membuktikan teori sinting ala sahabat saya.

Ingatan saya kembali ke masa-masa ketika saya berada di bangku kelas 2 SMP. Saya ingat, malam dimana saya dan empat orang sahabat perempuan menginap di rumah Nana. Nana, salah satu sahabat saya yang terkenal sinting dan mempunyai daya tarik luar biasa untuk menaklukkan para pria dijamannya.

Disaat saya dan keempat sahabat lainnya sedang menikmati berlompat-lompat sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara fals, Nana datang menghampiri cermin yang ada di kamarnya dan mematut dirinya disana tanpa mempedulikan keributan kami.

Saya menghentikan gerakan tarian konyol saya dan segera melihat Nana yang sedang mengelus-elus bibirnya sambil terus tersenyum lewat cermin. 

“Na, kenapa?”

“…”

“Na, ada apa? Diapain ama Bang Ryan?”

Mmm, bener apa tulisan di majalah. Rasanya seperti terbang ke langit ke tujuh dan menari-nari disana.”

Sontak keempat sahabat lainnya berjalan mendekati cermin dan melihat ke arah Nana dengan tatapan bodoh dan bingung. Jelas saja kami bingung, terbayangkan bagaimana lugunya kami saat itu?

“Ada apa sih, Na?” tanya Novi antusias.

“…”

“Na, yakin ngga ada apa-apa? Cerita dong,” bujuk Liza.

“…”

Nana hanya menjawab pertanyaan dengan terus tersenyum dan tidak melepaskan ujung jari telunjuknya dari bibirnya.

Saya segera menyadari bahwa Nana baik-baik saja. Dia hanya sedang mabuk cinta. Lihat ekspresinya, tidak memperlihatkan kalau dia menderita atau telah disakiti oleh Ryan.

Mmm, kok bisa? Ngelakuin dimana? Di teras? Dicium apanya?” tanya saya sambil tertawa melihat gaya genit Nana mengoles lipbalm di bibirnya.

Nana berlari keluar kamar sambil terus tersenyum dan tiba-tiba bersenadung riang, ntah dalam irama apa. 

Saya dan keempat sahabat saya akhirnya hanya bisa tertawa melihat tingkah Nana dan mulai membahas ke-abnormal-annya.

Nana mengatakan bahwa ciuman pertama akan membuat kita serasa terbang ke langit ke tujuh telah membuat saya dan sahabat-sahabat saya penasaran.

“Apa ciuman pertama itu sedemikian dahsyatnya?”

Satu-per-satu sahabat saya mulai membuktikannya. Dan saya?

Saya menunggu hingga 6 tahun lamanya untuk bisa membuktikan teori sinting tersebut. Kenapa saya bisa selama itu memutuskan untuk berciuman dengan seseorang?

“Saya hanya akan melakukan ciuman pertama kali dengan orang yang benar-benar saya suka.” Dan itu saya lakukan dengan mantan sahabat. Kenapa mantan sahabat? Karena dia telah menukar statusnya dari sahabat kecil saya menjadi pacar.

Ciuman pertama di usia 20 tahun tidak membuktikan apa-apa atas teori Nana. Saya tidak merasa kaki saya mengambang, apalagi bisa terbang. Yang saya ingat, jantung saya berhenti berdetak dan telapak tangan saya menjadi dingin, tapi suhu tubuh saya menghangat.

Saya pikir, bisa jadi hal ini dikarenakan saya terlalu fokus untuk mencari rasanya tapi tidak menikmati. Belum lagi gangguan beghel yang saya pakai, jadi jangan harap akan bisa berciuman ala Drew Barrymore di Never Been Kissed, karena setelah adegan itu terjadi, saya meninggalkan banyak luka di bibir pacar saya. Level pacar sama beginner-nya dengan saya. Benar-benar pengalaman pertama yang kacau. Tapi kami menikmatinya dengan tertawa.

Bagaimana jika cerita ini saya ceritakan kepada Nana?

Bisa jadi dia adalah orang terakhir yang akan menghentikan tawanya. Level Nana sudah expert dengan medali berlian, mungkin dia sudah tidak mencari rasanya terbang ke langit ke tujuh, melainkan dia mungkin sudah merasakan bagaimana rasanya tinggal di surga meskipun sesaat dengan dayang-dayang membawa segelas margarita untuknya.

 

Saya hanya menyimpan cerita berusaha bisa terbang ini di salah satu kotak memori di hati saya. Saya masih menyimpan gregetnya walaupun tidak bisa terbang sejauh teori Nana.

Saya masih penasaran.

Saya terus mencari rasanya terbang ke langit ke tujuh. Apa langit ke tujuh sebegitu romantisnya untuk didatangi ketika ciuman pertama kali terjadi?

Saya mencarinya dalam setiap kali ciuman pertama saya dengan seseorang. Setiap bibir mengantarkan arus listrik yang berbeda-beda tapi sensasinya tidak semenggoda sensasi pertama.

Bisa jadi karena saya tidak pernah lagi merasakan perasaan seperti ketika pesawat akan take-off dari bandara setelah ciuman pertama saya dulu. Ada debaran jantung yang seakan berhenti beberapa saat, saat dua bibir bersentuhan.

Mungkin ini yang disebut dengan terbang ke langit ke tujuh ya? Ada penanggalan logika disana ketika adegan itu terjadi. Alam bawah sadar lah yang bekerja dan membuat kita merasa ada di sebuah tempat terindah dimuka bumi ini.

Dan, saya selalu tertawa geli setiap kali mengingat bagaimana saya dan mantan sahabat bisa melakukannya di ciuman pertama kami.

Lalu, saya mengacungkan jempol untuk teori ngawur Nana.

Kini saya akan menyuruhnya mengacungkan jempolnya buat saya karena saya akan melengkapi teorinya.

“Sekarang, perasaan saya bukan lagi bisa terbang ke langit ke tujuh dalam one day flight saja, tapi setiap kali saya berciuman dengan pacar terakhir saya, rasanya kami sudah pindah ke langit ke tujuh.”

Tahu kenapa?

Karena ketika saya mencium seseorang dengan perasaan sayang dan nyaman, maka hidup akan selalu menjadi lebih baik setiap kalinya. Kini, saya sudah tidak lagi mencari pembuktian, tapi saya sudah menemukan kenyataan.

 

Leave a Reply